
JAKARTA, KBKNews.id – Perang yang melibatkan Iran kini telah memasuki pekan kedua, memicu kekhawatiran akan krisis energi global. Penutupan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz telah menyebabkan dampak signifikan pasar minyak dunia.
Seperti dirangkum The New York Times, Kamis (12/3/2026), Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan, merupakan jalur bagi seperlima (20%) pasokan minyak dunia dan sebagian besar gas alam cair (LNG).
Meskipun tidak ada penutupan secara resmi, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut kini hampir terhenti total. Hal ini disebabkan oleh kombinasi serangan fisik terhadap kapal-kapal tanker dan keengganan perusahaan asuransi untuk memberikan penjaminan finansial bagi pelayaran di zona konflik tersebut.
Harga Minya Naik
Ketidakpastian ini membuat harga minyak dunia bergerak tidak menentu. Pada hari Minggu lalu, harga sempat melonjak hingga 119 dolas Amerika Serikat (AS) per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sebelum akhirnya anjlok sekitar 9% ke angka 86 dolar AS per barel.
Dampak dari kenaikan ini mulai dirasakan oleh konsumen di seluruh dunia. Di AS, harga bensin dan diesel merangkak naik, membebani biaya transportasi warga. Kemudian di Korea Selatan pemerintah setempat terpaksa mematok harga batas atas di SPBU untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Sementara di India, pemerintah menangguhkan penggunaan gas untuk kremasi guna menghemat cadangan energi.
Ancaman Krisis Energi
Situasi saat ini membangkitkan memori kelam tentang krisis minyak tahun 1973, di mana harga minyak melonjak empat kali lipat dalam waktu singkat. Banyak negara-negara Barat kerepotan.
Namun, dunia saat ini dinilai sedikit lebih siap dibandingkan 50 tahun lalu. Amerika Serikat, misalnya, kini telah bertransformasi dari importir neto menjadi eksportir neto minyak berkat teknologi canggih seperti fracking. Selain itu, ketergantungan global terhadap minyak secara relatif telah berkurang seiring dengan pengembangan energi terbarukan dan nuklir.
Kondisi Terkini di Iran
Militer AS melaporkan telah menyerang 16 kapal peletak ranjau milik Iran di dekat Selat Hormuz. Sementara itu di Lebanon, krisis kemanusiaan membayangi dengan 700.000 warga mengungsi akibat serangan udara Israel.
Serangan Iran juga telah melukai 140 personel militer AS dan menewaskan 7 lainnya. Ketidakpastian ini menyebabkan banyak negara-negara khawatir dan berharap perang segera berakhir.




