BOGOR – Sudah sebulan ini puluhan warga di Perumahan PGRI Ciampea Endah 3, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Bara ini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
Menurut Koordinator Keamanan Perumahan PGRI Ciampea Endah 3, Aan, gangguan air pertama kali disebabkan oleh kerusakan mesin, setelah diperbaiki, gangguan kembali terjadi karena kehabisan token listrik.
Pihak developer belum mencairkan uang untuk biaya pembelian token listrik yang diakomodir oleh petugas keamanan, katanya.
“Selama ini kami dari keamanan yang menalangi pembelian token listrik, dana pencairan dari perusahaan belum keluar,” kata Aan seperti diberitakan RN, Senin (15/8).
Untuk mengatasi persoalan token listrik untuk air, pihak keamanan memungut uang Rp10 ribu per rumah tangga. Selain itu, setiap bulan warga juga sudah dipungut iuran bulanan sebesar Rp30 ribu untuk air, kebersihan dan keamanan.
Setelah pemungutan dilakukan, kondisi air tidak juga berlangsung normal. Warga masih harus mengangkut air dari bak penampungan. Air yang dialiri oleh pihak keamanan dibatasi pada pukul 12.00 WIB, dan pukul 04.00 WIB.
“Setiap jam empat subuh kami harus mengangkut air, kalau tidak kebagian, kami tidak bisa mandi, masak atau mencuci, karena akan hidup lagi jam 12 siang,” kata Acep warga lainnya.
Acep yang memiliki dua anak balita mengatakan air yang dialiri debitnya kecil sehingga tidak sanggup mengalir ke dalam rumah. Selain itu, kualitas air yang didistribusikan juga tidak bagus, berlumut dan berwarna kecokelatan.
“Padahal ini musim hujan, kami kesulitan air. Bagaimana kalau musim kemarau, kasihan tetangga yang sudah lansia, harus mengangkat air setiap pagi,” kata Acep.
Bambang mengatakan, kesulitan air yang dialami warganya sudah berlarut-larut. Bahkan salah seorang warga dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama empat hari karena kelelahan harus mengangkut air setiap pagi hari.
“Warga sudah berupaya mendatangi developer, hasilnya tidak ada, warga juga sudah membuat sumur sendiri tapi tidak jadi solusi. Saya sudah buat sumur resapan, sudah kedalaman lima meter belum ada mata air. Tahun lalu saya buat sumur bor, juga tidak ada airnya,” kata Bambang.





