
Jakarta, KBKNews.id – Suasana di pusat ibu kota Irak mencekam setelah sebuah rudal berhasil menembus pengamanan ketat Zona Hijau dan menghantam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Sabtu (14/3/2026). Serangan ini menandai eskalasi serius di tengah bara konflik yang kian membara di kawasan Timur Tengah.
Saksi mata melaporkan kepulan asap tebal membubung dari dalam area kedutaan sesaat setelah ledakan terdengar. Proyektil tersebut dilaporkan mendarat tepat di titik krusial fasilitas diplomatik Amerika tersebut.
Landasan Helikopter Jadi Titik Jatuh, Pertahanan Udara Rusak
Dua sumber dari otoritas keamanan setempat mengungkapkan rudal tersebut menghantam landasan helikopter yang berada di dalam perimeter kedutaan. Dampak dari ledakan ini disebut-sebut melumpuhkan sebagian infrastruktur vital penangkis serangan milik Amerika.
Sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera, seorang pejabat mengonfirmasi hantaman tersebut menghancurkan sebagian dari sistem pertahanan udara yang menjaga kompleks kedutaan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada rincian lebih lanjut mengenai jenis kerusakan teknis maupun jumlah korban jiwa di lokasi kejadian.
Ambisi Balas Dendam dan Sayembara Berdarah
Situasi ini dipandang sebagai buntut dari kemarahan kelompok-kelompok bersenjata yang beraliansi dengan Teheran. Pasca-tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu, gelombang ancaman terhadap aset Amerika terus meningkat.
Jurnalis Al Jazeera, Mahmoud Abdelwahed, menyoroti motif di balik serangan yang terus berulang ini.
“Tetapi kami memahami bahwa kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran di Irak selalu berjanji untuk menyerang fasilitas AS, terutama kedutaan,” ujar Abdelwahed.
Bahkan, tekanan terhadap personel diplomatik Amerika kini berubah menjadi ancaman fisik yang nyata. Kelompok-kelompok tersebut dikabarkan menawarkan imbalan sebesar 100 ribu dolar AS (sekitar Rp1,6 miliar) bagi siapa saja yang dapat membocorkan informasi mengenai keberadaan staf diplomatik AS di Irak.
Irak Terjepit di Antara Perang Proksi
Serangan rudal ini merupakan insiden kedua yang menyasar Kedutaan Besar AS di Baghdad sejak konflik regional pecah. Sebelumnya, pada Jumat (13/32026), pihak kedutaan telah meningkatkan status peringatan keamanan ke Level 4, mengantisipasi serangan susulan dari kelompok yang tergabung dalam Islamic Resistance in Iraq.
Kondisi geopolitik Irak kini berada di titik nadir. Meski pemerintah di Baghdad menyatakan ingin tetap netral dan tidak terseret dalam arus perang besar, kelompok-kelompok milisi lokal seperti Kataib Hizbullah secara terang-terangan menyatakan tidak akan tinggal diam.
Pekan lalu, ketegangan semakin memuncak saat dua anggota milisi tersebut tewas dalam sebuah serangan udara di dekat markas mereka, yang kemudian ditudingkan kepada pihak Washington dan Tel Aviv.




