Riset IDEAS Sebut Nilai Ekonomi Zakat Fitrah 2026 Merosot meski Jumlah Pembayar Zakat Naik

IDEAS memproyeksikan potensi zakat fitrah nasional tahun 2026 berada di kisaran Rp6,4 triliun hingga Rp7,1 triliun. (Foto: istockphoto)

JAKARTA, KBKNews.id – Gerak roda filantropi Islam di Indonesia menjelang Idulfitri 1447 Hijriah menunjukkan tren yang unik. Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi zakat fitrah nasional tahun 2026 berada di kisaran Rp6,4 triliun hingga Rp7,1 triliun.

Meski angka tersebut terlihat masif, secara ekonomi nilai ini sebenarnya mengalami penyusutan dibandingkan periode 2025. Kala itu, nominal zakat mencapai angka Rp7,5 triliun. Secara persentase, terjadi penurunan nilai konversi rupiah sebesar 5,5 hingga 6,39 persen.

Paradoks Jumlah Pembayar Zakat dan Harga Beras

Menariknya, penurunan nilai ini tidak disebabkan oleh berkurangnya kesadaran masyarakat untuk berzakat. Sebaliknya, jumlah muzakki (pembayar zakat) justru diprediksi meningkat hingga mencapai 192 juta sampai 216,6 juta jiwa. Secara volume, beras yang terkumpul pun diproyeksikan melonjak hingga 541.400 ton.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengungkapkan melandainya nilai zakat dalam satuan rupiah disebabkan oleh penurunan harga rata-rata komoditas beras sebagai basis penghitungan.

“Secara volume zakat fitrah meningkat karena jumlah muzakki bertambah. Namun jika dikonversi ke nilai rupiah, potensinya justru menurun sekitar 5,5–6,39% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan rata-rata harga beras yang dikonsumsi masyarakat,” jelas Tira dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).

Saat ini, harga beras berada di kisaran Rp15.000 per kilogram, turun dibandingkan tahun lalu yang sempat bertengger di level Rp16.000 per kilogram.

Fenomena “Turun Kelas” dan Tekanan Ekonomi Kelas Menengah

Penurunan nilai zakat yang paling tajam justru terpotret pada kelompok masyarakat kelas menengah-atas. Sektor ini diperkirakan menyumbang Rp3,5 triliun, merosot 8,9 persen dibandingkan kontribusi tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,8 triliun.

Kondisi ini disinyalir berkaitan erat dengan menyusutnya populasi kelas menengah di Indonesia yang tercatat berkurang sekitar 1,1 juta orang pada 2025. Selain itu, daya beli yang tergerus memaksa sebagian masyarakat beralih dari konsumsi beras premium ke jenis beras yang lebih ekonomis.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kelompok miskin dan rentan, tetapi mulai menjalar ke kelas menengah. Ruang fiskal mereka semakin terbatas, termasuk untuk memenuhi kewajiban sosial-keagamaan seperti zakat fitrah,” tambah Tira.

Bantalan Pangan bagi Warga Termiskin

Walaupun secara nilai ekonomi mengalami kontraksi, zakat fitrah tetap menjadi instrumen krusial bagi ketahanan pangan nasional. Dana yang terkumpul diproyeksikan akan menjadi penyambung hidup bagi sekitar 24,1 juta penduduk Muslim paling rentan (kelompok desil 1).

Jika seluruh potensi tersebut disalurkan dalam bentuk tunai, setiap penerima zakat (mustahik) diperkirakan akan mendapatkan sokongan dana sekitar Rp265.000 hingga Rp296.000 per kepala.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here