JAKARTA, KBKNEWS.id – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk seperti Kuwait dan Bahrain, di tengah klaim Amerika Serikat bahwa negosiasi damai sedang berlangsung.
Pernyataan ini justru dibantah keras oleh pihak Iran. Juru bicara militer Iran, Letkol Ebrahim Zolfaghari, menyindir klaim Washington dengan mengatakan bahwa AS “seolah sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.”
Ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini bertolak belakang dengan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan sedang berlangsung dan Iran “sangat ingin membuat kesepakatan.
Di lapangan, situasi justru menunjukkan eskalasi. Serangan Iran dilaporkan menghantam fasilitas di Kuwait dan Bahrain, sementara Israel terus menggempur wilayah Lebanon yang diklaim sebagai basis Hizbullah.
Otoritas Lebanon menyebut lebih dari 1.000 orang tewas sejak awal Maret, termasuk anak-anak, akibat serangan tersebut.
Sejumlah negara dan pihak internasional turut angkat suara. Perwakilan Oman di PBB menyebut perang AS-Israel terhadap Iran sebagai “ilegal” dan menjadi pemicu utama eskalasi kawasan. Sementara itu, Arab Saudi mengecam serangan Iran ke negara Teluk tidak dapat dibenarkan.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez bahkan menilai situasi ini “jauh lebih buruk” dibanding invasi Irak 2003. Ia menuduh Israel berpotensi mengulangi kehancuran seperti di Gaza ke Lebanon.
Di sisi lain, dampak global mulai terasa. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperingatkan gangguan pasokan pupuk akibat penutupan Selat Hormuz dapat memicu kelangkaan pangan dan kenaikan harga.
Meski demikian, pasar sempat merespons positif kabar proposal damai AS dengan turunnya harga minyak.
Hingga kini, upaya diplomasi masih belum menunjukkan hasil konkret, sementara risiko eskalasi yang lebih luas terus membayangi kawasan dan dunia.





