Fasilitas Nuklir Bushehr Iran Diserang, Menlu Abbas Araghchi Kecam Standar Ganda Barat

Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan PLTN Bushehr menjadi sasaran serangan. (Foto: themoscowtimes)

Jakarta, KBKNews.id – Situasi di Timur Tengah kian mencekam setelah fasilitas nuklir satu-satunya milik Iran yang masih beroperasi, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan udara. Insiden ini memicu reaksi keras dari pemerintah Iran yang menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik upaya sabotase tersebut.

Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pernyataan resminya di media sosial, mengecam aksi militer yang menyasar infrastruktur energi vital tersebut. Ia secara terbuka menyentil komunitas internasional yang dianggap menerapkan standar ganda dalam menyikapi ancaman terhadap fasilitas nuklir.

“Masih ingat kemarahan negara-negara Barat atas pertempuran yang terjadi di dekat PLTN Zaporizhzhia di Ukraina? Kini, serangan serupa diarahkan ke fasilitas kami,” tegas Araghchi sembari menunjuk keterlibatan langsung Washington dan Tel Aviv.

Proyektil Hantam Perimeter Reaktor

Laporan dari kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, menyebutkan sebuah proyektil jatuh dan menghantam area perimeter luar PLTN Bushehr. Meskipun ledakan terjadi di kawasan pembangkit, otoritas setempat memastikan inti reaktor dan infrastruktur teknis utama masih dalam kondisi aman.

Hingga saat ini, pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) maupun Pasukan Pertahanan Israel (IDF) belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan serangan terbaru ini. Namun, eskalasi ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras melalui media sosial Truth Social, yang menyatakan akan membombardir Iran hingga kembali ke “Zaman Batu”.

Rentetan Serangan Sepanjang Maret 2026

Insiden yang terjadi hari ini bukanlah yang pertama. Berdasarkan catatan Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), PLTN Bushehr telah menjadi target berulang dalam rangkaian konflik yang memanas sebulan terakhir:

  • 17 Maret: Sebuah “proyektil musuh” dilaporkan menghantam lokasi pembangkit untuk pertama kalinya. AEOI menyatakan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan fisik pada bangunan utama.
  • 24 Maret: Serangan kembali terjadi. Pihak Iran menyebutnya sebagai “agresi berulang” dari pihak Amerika-Israel, meski kembali melaporkan bahwa fungsi teknis reaktor tidak terganggu.
  • 27 Maret: Di tengah kegelapan malam, proyektil ketiga mendarat di kawasan yang sama. Lagi-lagi, otoritas memastikan tidak ada gangguan pada pasokan listrik maupun kebocoran radiasi.

Dampak Global dan Ancaman Lingkungan

PLTN Bushehr memegang peranan krusial sebagai jantung energi Iran. Penyerangan terhadap fasilitas ini dianggap oleh banyak pakar keamanan internasional sebagai langkah yang sangat berisiko. Bukan hanya karena nilai strategisnya, tetapi juga potensi bencana lingkungan global jika terjadi kebocoran zat radioaktif akibat hantaman senjata militer.

Meski Iran mengeklaim seluruh sistem keamanan reaktor masih berfungsi optimal tanpa ada gangguan teknis, kehadiran proyektil di area perimeter menunjukkan zona merah nuklir kini telah berada di garis depan medan pertempuran terbuka.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here