JAKARTA, KBKNews.id – Pemerintah Indonesia memastikan bahwa pemberangkatan jemaah haji tahun 2026 tetap berjalan sesuai jadwal. Saat ini, persiapan telah memasuki tahap akhir dengan kelompok terbang (kloter) pertama dijadwalkan bertolak menuju Madinah pada 22 April mendatang.
Meskipun ada kekhawatiran terkait perang Iran dan Amerika Serikat (AS), keberangkatan jemaah tetap sesuai jadwal. Otoritas terkait terus memperketat langkah-langkah keamanan guna menjamin keselamatan seluruh jemaah selama berada di Tanah Suci.
Untuk musim haji tahun ini yang diperkirakan jatuh pada 24 hingga 29 Mei, Indonesia mendapatkan kuota sebanyak 221.000 jemaah. Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, profil jemaah tahun ini didominasi oleh ibu rumah tangga sebanyak 52.000 orang, disusul pekerja sektor swasta sebanyak 46.000 orang. Mayoritas jemaah berada pada rentang usia 41 hingga 64 tahun, sementara lebih dari 40.000 jemaah masuk dalam kategori lansia di atas 65 tahun.
Melansir dari ANN, Senin (20/4/2026), Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajarannya untuk memprioritaskan keselamatan jemaah. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, telah melepas 363 petugas haji ke Jeddah pada Jumat (17/4/2026) untuk membantu dan melindungi jemaah di lapangan.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menyatakan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi telah dilakukan secara intensif dan persiapan layanan sudah mencapai hampir 100 persen.
“Persiapan layanan haji hampir selesai 100 persen. Tahapan saat ini adalah pengecekan akhir seluruh layanan menjelang operasional haji,” kata Irfan, Rabu (15/4/2026).
Di sisi lain, pemerintah harus menghadapi tantangan kenaikan biaya operasional akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur). Garuda Indonesia dan Saudia Airlines melaporkan adanya tekanan anggaran yang mencapai Rp1,7 triliun.
Namun, Menteri Irfan menekankan pesan Presiden bahwa kenaikan biaya tersebut tidak boleh membebani jemaah. Saat ini, jemaah membayar sekitar Rp54 juta, sementara sisanya sebesar Rp33 juta disubsidi oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Guna mendukung kelancaran ibadah, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur yang masif di Arab Saudi, termasuk 177 hotel di Makkah dan 100 hotel di Madinah. Fasilitas kesehatan juga disiagakan dengan 40 klinik di Makkah dan lima di Madinah, serta dukungan 74 dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik jemaah. Dengan segala persiapan ini, Indonesia berharap penyelenggaraan haji tahun 2026 tetap berjalan khidmat meski di tengah bayang-bayang konflik internasional.





