JAKARTA, KBKNEWS.id – Kesadaran tentang bahaya sampah bukan hal baru dan informasi soal dampak lingkungan hingga ancaman yang ditimbulkan sudah mudah diakses. Namun, persoalan di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku.
Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) UMY melihat celah tersebut sebagai tantangan utama. Melalui Program Mother Earth: Dari Ibu untuk Bumi, LPM UMY mendorong pendekatan yang lebih konkret dengan menyasar unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.
Program ini menempatkan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, sebagai motor perubahan. Peran mereka dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan pola konsumsi, pengelolaan rumah tangga, hingga pembentukan kebiasaan anak sejak dini.
Dalam implementasinya, Mother Earth tidak hanya berfokus pada edukasi. Peserta diajak memahami pola konsumsi bijak, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membeli sesuai kebutuhan, serta menekan sisa makanan. Langkah ini menjadi fondasi penting untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.
Selain itu, LPM UMY juga memberikan pelatihan dan dukungan alat produksi agar sampah yang dihasilkan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Pendekatan ini bertujuan mengubah cara pandang masyarakat, dari melihat sampah sebagai masalah menjadi peluang.
Pendampingan berkelanjutan turut dilakukan untuk memastikan perubahan yang sudah dimulai tetap konsisten. Dengan demikian, praktik baik yang terbentuk tidak berhenti di individu, tetapi dapat meluas ke lingkungan sekitar.
Pendekatan ini menjadi relevan di tengah masih maraknya kasus pembuangan sampah sembarangan. Salah satunya terjadi di Pandeglang, ketika tiga orang tertangkap membuang sampah ilegal dan terancam sanksi hingga ratusan juta rupiah.
Peristiwa tersebut menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar kurangnya informasi, melainkan juga soal kebiasaan dan tanggung jawab.
Melalui Mother Earth, LPM UMY mencoba menjawab persoalan tersebut dari hulu. Perubahan dibangun dari kebiasaan kecil di dalam rumah, yang dilakukan secara bertahap dan konsisten.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal mengetahui mana yang benar, tetapi tentang bagaimana kebiasaan itu dijalankan setiap hari. Dari peran ibu di rumah, perubahan itu diharapkan tumbuh dan menyebar ke masyarakat yang lebih luas.





