Dolar AS Tembus Rp17.400, Presiden Panggil KSSK

(foto: detik.com)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergegas ke Istana (5/5 siang) dipanggil Presiden Prabowo di tengah anjloknya nilai tukar ruipiah sampai Rp17.400 per dolar AS. Hadir pula seluruh Menko dan anggota KSSK. (foto: detik.com)

PRESIDEN Prabowo Subianto memanggil Anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) ke Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke level Rp 17.400.

Anggota KSSK yang hadir a.l. Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi, Ketua LPS Anggito Abimanyu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang tiba terakhir di Istana bersama Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara dan Jura Agung.

Para pejabat yang hadir enggan menyebutkan apa yang akan dibahas dengan Presiden Prabowo Subianto termasuk apakah membahas soal langkah stabilisasi nilai tukar usai rupiah melemah hingga Rp 17.400.

“Nanti saja ya, tunggu ya,” kata Perry merespons wartawan ketika tiba di Istana. “Tunggu dulu ya, nanti,” kata Suahasil saat tiba.

Hanya Purbaya yang buka suara soal rapat hari ini. Dia mengatakan KSSK semua datang hadir rapat hari ini dan Gubernur BI akan menjelaskan cara memperbaiki nilai tukar rupiah.

“KSSK datang. Yang penting saya gini, dengan pondasi ekonomi yang bagus nggak terlalu sulit memperbaiki nilai tukar, tapi itu bukan kerjaan saya, kerjaan bank sentral. Nanti dia yang jelaskan gimana cara perbaikinya,” ujar Purbaya.

Menteri Koordinator yang hadir, ada Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Rupiah makin terpuruk
Nilai tukar rupiah per 5 Mei 2026 semakin terpuruk, menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS, menempatkanya pada titik terendah sepanjang sejarah.

Pelemahan ini dipicu sentimen global dan domestik, mendorong Bank Indonesia melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. Dampaknya, harga barang impor berpotensi semakin mahal.

Menurut catatan, tren pelemahan nilai tukar rupiah terjadi di tengah konflik Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari yang masih berlangsung saat ini.

Penyebabnya,ketidakpastian situasi global, aliran investasi keluar, kenaikan harga minyak global sampai 126 dolar AS per barel untuk jenis Brent dan 115 dolar AS jenis WTI dan berlanjutnya penguatan dolar AS terhadap rupiah.

Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan rupiah dengan menyatakan akan terus hadir di pasar melalui intervensi terukur (intervensi valas) guna memastikan mekanisme pasar berjalan baik.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak pada kondisi ekonomi yakni memicu kenaikan harga barang impor (imported inflation) dan meningkatkan biaya produksi.
Sampai berita ini diturunkan, rapat di Istana masih berlangsung. (detik.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here