Awas, Virus Hanta!

Waspada! virus Hanta yang menyerang paru-paru dan sudah trdeteksi a.l di Yogyakarta, NTT dan Sulawesi Utara. (foto: Adrobe stock)

SEJAUH ini perkembangan penularan virus Hanta Pulmonary Syndrome masih jauh untuk menciptakan pandemi global seperti terjadi pada Corona Virus (Covid-19) antara akhir 2019 sampai medio 2023.

Untuk itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini meminta pemerintah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) penanganan Hantavirus di fasilitas kesehatan (faskes).

Menurut dia, penguatan infrastruktur dan kesiapan tenaga kesehatan perlu disiapkan dalam penyebaran Hantavirus tersebut.

“Harus ada penguatan di semua fasilitas kesehatan. Baik dari infrastruktur, maupun tenaga kesehatan yang harus sudah memahami prosedur penanganan Hantavirus,” ujar Yahya saat dihubungi, Jumat (8/5).

Fasilitas Polymerase Chain Reaction (PCR) di rumah sakit pusat maupun daerah, menurut Yahya, juga perlu disiapkan untuk mendeteksi potensi penyebaran virus tersebut.

“Siapkan juga PCR di rumah-rumah sakit pusat dan daerah untuk mengantisipasi masuknya Hantavirus ke Indonesia.

Jika perlu juga di bandara untuk mengecek mereka yang baru datang dari negara-negara suspek Hantavirus atau negara berisiko,” ujar Yahya.

Untuk mencegah masuknya Hantavirus ke Indonesia, ia meminta adanya pengetatan pengawasan di bandara hingga pelabuhan.

Sebab kasus penyebaran Hantavirus merebak di kapal pesiar mewah MV Hondius yang berlayar di wilayah Argentina.

“Pengawasan ketat di pintu-pintu masuk wilayah Indonesia harus dilakukan. Baik di bandara dan pelabuhan, bahkan pelabuhan di jalur-jalur tikus. Ini sebagai langkah pencegahan,” ujar Yahya.

Selain itu, pemerintah perlu melakukan skrining terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang baru datang dari luar negeri.

Langkah antisipasi itu, kata Yahya, perlu segera dilakukan agar virus tersebut tidak menyebar ke dalam negeri.

“Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tapi sekali lagi, pencegahan lebih baik. Pemerintah harus masif memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit Hantavirus dan bahayanya bagi manusia,” ujar Yahya.

Mewabah di kapal pesiar
Virus Hanta baru-baru ini terdeteksi mewabah di kapal pesiar MV Hondius yang beroperasi di sekitar Tanjung Verde, Afrika (awal Mei 2026), menewaskan tiga orang.
Infeksi virus Hanta sebelumnya juga terdeteksi di Yogyakarta, NTT dan Sulawesi Utara medio 2025.

Hanta masuk jenis virus RNA untai tunggal berpolaritas negatif, famili ‘bunya viridae’, berbentuk sferikal (bulat) dengan diameter 80 – 120 nanometer, diselubungi membran lipid. Komponen genomnya terdiri dari tiga segmen RNA (S,M, L) yang mengkode protein nukleokapsid dan glikoprotein permukaan.

Hantavirus pulmonary syndrome gejalanya mirip flu (demam, ,menggigil, nyeri otot dan sakit kepala selama satu sampai delapan minggu setelah terpapar kotoran tikus atau hewan pengerat lainnya. Gejala lanjutan berlangsung dari empat sampai 10 hari) sesak nafas parah, batuk kering dan paru-paru berisi cairan.

Aksi mitigasi perlu segera dilakukan agar peristiwa seperti pandemi Covid-19 yang menjadi musibah bagi seluruh umat manusia bisa dicegah. (kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here