
EMPAT negara mayoritas Muslim disebut berpotensi membentuk aliansi pertahanan seperti Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Pakar menyebut potensi pembentukan ini muncul karena ada ancaman serangan dari Israel seperti yang pernah terjadi di Doha, Qatar, September 2025 lalu.
Wacana terbentuknya poros pertahanan baru ini menguat setelah Mesir dan Pakistan kembali menggelar latihan militer gabungan selama dua pekan di Pakistan. Empat negara itu adalah Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi.
Berdasarkan laporan terbaru per April 2026, empat negara mayoritas Muslim—Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi—tengah membahas pembentukan aliansi pertahanan baru yang sering disebut sebagai “NATO versi negara Muslim”.
Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya agresi militer Israel dan kekhawatiran atas proyek “Israel Raya” di Timur Tengah. Berikut adalah profil dari keempat negara tersebut
Profile keempat negara tersebut sebagai kekuatan militer sbb:
1. Pakistan
Posisi: Kekuatan nuklir di Asia Selatan dengan jumlah penduduk Muslim terbesar kedua di dunia.
Peran: Pakistan aktif mendorong pembentukan kekuatan militer Islam ini dan juga meningkatkan latihan militer gabungan dengan Mesir sebagai persiapan.
Kekuatan: Memiliki militer yang besar dan berpengalaman dalam konflik regiona
2. Mesir
Posisi: Kekuatan utama di Afrika Utara dan Timur Tengah.
Peran: Mesir berada di garis depan dalam mendorong berdirinya pakta militer ini.
Kekuatan: Militer Mesir dikenal memiliki armada yang kuat dan posisi strategis di Terusan Suez, serta merupakan salah satu negara penerima bantuan militer terbesar.
3. Turkiye
Posisi: Anggota NATO yang sebenarnya, namun juga aktif memimpin inisiatif di dunia Islam.
Peran: Turki memiliki industri pertahanan maju dan pengaruh politik yang besar di Timur Tengah. Keikutsertaannya memperkuat pakta ini dengan teknologi militer mutakhir.
Kekuatan: Militer terbesar kedua di NATO, produsen drone (UAV) terkemuka.
4. Arab Saudi
Posisi: Pemimpin dunia Arab dan pusat dunia Islam.
Peran: Arab Saudi merupakan sekutu utama non-NATO di kawasan yang terus memperkuat keamanan regional.
Kekuatan: Memiliki anggaran pertahanan yang sangat besar dan pengaruh ekonomi yang signifikan di kawasan.
Dari 145 negara yang disurvei kekuatan militernya, Global Firepower (GSP) 2026 menempatkan Turki di ranking ke-9, Pakistan di ranking ke-14, Mesir di ranking ke-19, dan Arab Saudi ke 25.
Sebagai catatan, Amerika Serikat yang sedang berperang dengan Iran masing-masing di ranking ke-1 dan ke-16.
Dari sisi belanja militer, GSP pada 2026 menempatkan Arab Saudi dalam 10 besar (ranking ke-8) sekitar 64 miliar dolar AS, Turkiye ke- 12 (51,4 miliar dolar AS, Pakistan ke-38 (9,1 miliar dolar AS- dan Mesir ke-56 (5,19 miliar dolar AS).
Sebagai catatan, pada 2026 AS menempati ranking ke-1 (831,5 miliar dollar AS)Â atau sepetiga anggaran militer global, sedangkan Iran yang sedang berkonflik dengannya di ranking ke-36 (9,23 miliar dolar AS).
Respons kolektif
Langkah pembentukan aliansi empat negara muslim ini dinilai sebagai respons kolektif untuk menghadapi potensi ancaman keamanan regional.
Meskipun sering disebut “NATO Islam”, aliansi ini berbeda dengan Koalisi Militer Islam untuk Melawan Terorisme (IMCTC) yang sudah ada sebelumnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, keempatnya juga dilaporkan makin intens berkoordinasi dalam isu keamanan dan pertahanan kawasan seiring dengan serangan Israel.
Pertimbangannya, jika Qatar bisa diserang, hal serupa juga bisa terjadi ke negara-negara timur tengah lain.
Serangan itu membuat banyak negara Arab mempertanyakan kembali efektivitas payung keamanan eksternal yang selama ini mereka andalkan.
“Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab, terutama di wilayah Teluk, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel,” kata analis politik independen Mesir, Islam Mansi kepada The New Arab
Situasi makin berubah setelah perang antara koalisi AS- Israel melawan Iran, sejak 28 Februari lalu.
Konflik itu memunculkan kekhawatiran baru di ibu kota-ibu kota regional bahwa Israel kini semakin leluasa menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan geopolitiknya.
Potensi ancaman
Selain ancaman perang langsung, negara-negara Teluk juga mencermati pencaplokan Tepi Barat oleh Israel, pembangunan kembali permukiman Yahudi di Gaza, hingga operasi militer di Lebanon dan Suriah, memunculkan kekhawatiran meluasnya proyek ‘Israel Raya’.
Dalam konteks itulah Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi mulai dipandang sebagai kuartet dengan modal strategis paling realistis untuk membangun sistem pertahanan bersama.
Pakistan memiliki kekuatan militer besar dan kemampuan nuklir. Turki unggul dalam industri pertahanan serta pengalaman tempur lintas kawasan.
Mesir memegang posisi strategis Terusan Suez dan salah satu militer terbesar di Afrika-Arab. Sementara Arab Saudi memiliki kapasitas pendanaan serta pengaruh politik di kawasan Teluk.
“Aliansi yang sama dapat mengerem ambisi regional Israel,” kata analis politik Saudi Omar Saif.
Menurut dia, gabungan empat negara tersebut memiliki bobot unik karena tidak hanya menyatukan jumlah pasukan, tetapi juga menyatukan akses geostrategis dari Asia Selatan, Mediterania, Laut Merah, hingga Teluk. (CNN/The New Arab/ns)




