
HASIL pengintaian Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA) terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyebutkan, ia masih memainkan peran penting dalam strategi dan diplomatik.
Meski belum pernah muncul di publik sejak diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran,8 Maret lalu untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei yang wafat di hari pertama serangan AS pada 28 Feb., ia diyakini masih memainkan peran penting dalam strategi dan negosiasi dengan pihak AS.
Mengutip CNN, Sabtu (9/5), sejumlah sumber yang mengetahui laporan intelijen AS menyebut Mojtaba terlibat langsung bersama pejabat senior Iran dalam menentukan arah strategi perang.
Namun, struktur kekuasaan di negara tersebut disebut masih belum sepenuhnya jelas setelah rezim mengalami guncangan besar akibat serangan militer.
“Laporan intelijen menyebutkan, otoritas yang tepat di rezim Iran yang kini terpecah masih belum jelas, tetapi Mojtaba kemungkinan membantu mengarahkan Iran menangani negosiasi dengan AS guna mengakhiri perang,” demikian isi laporan itu.
Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran beberapa hari setelah serangan yang menewaskan sejumlah petinggi militer Iran. Dalam serangan itu, ia juga dilaporkan mengalami luka serius.
Sejak saat itu, keberadaan Mojtaba belum pernah dapat dikonfirmasi secara visual oleh komunitas intelijen AS.
Kondisi ini memicu spekulasi mengenai kesehatan dan pengaruhnya di dalam struktur kepemimpinan Iran.
Sumber intelijen menyebut salah satu penyebab sulitnya melacak Mojtaba adalah karena ia tidak menggunakan perangkat elektronik untuk berkomunikasi. Ia hanya berhubungan dengan orang-orang yang menemuinya langsung atau melalui kurir pesan.
“Sebagian ketidakpastian muncul karena Mojtaba tidak menggunakan perangkat elektronik untuk berkomunikasi,” kata salah satu sumber.
Laporan intelijen juga menyebut Mojtaba masih menjalani perawatan medis akibat luka serius yang dideritanya. Ia dikabarkan mengalami luka bakar parah di satu sisi tubuh yang memengaruhi wajah, lengan, badan, dan kakinya.
Namun, pihak Iran membantah kondisi Mojtaba dalam keadaan kritis. Kepala protokol kantor pemimpin tertinggi Iran, Mazaher Hosseini, mengatakan kondisi Mojtaba terus membaik.
“Syukurlah, ia dalam kondisi kesehatan yang baik,” ujar Hosseini kepada publik di Iran dan menambahkan, Mojtaba hanya mengalami cedera ringan di kaki, punggung bawah, dan serpihan kecil di belakang telinga.
Hosseini juga menuding pihak musuh sengaja menyebarkan rumor terkait kondisi kesehatan Mojtaba.
“Musuh menyebarkan berbagai rumor dan klaim palsu. Mereka ingin melihat dan menemukan dia, tetapi masyarakat harus bersabar,” katanya.
Presiden Iran mengaku bertemu Mojtaba
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengaku telah melakukan pertemuan langsung selama dua setengah jam dengan Mojtaba Khamenei pekan ini.
Pertemuan tersebut menjadi laporan pertama mengenai interaksi langsung pejabat tinggi Iran dengan pemimpin tertinggi baru itu sejak perang pecah.
Meski demikian, intelijen AS masih mempertanyakan seberapa besar kendali Mojtaba atas pemerintahan Iran saat ini.
Sejumlah analis menduga ada pihak dalam lingkaran kekuasaan Iran yang memanfaatkan nama Mojtaba untuk mendorong agenda masing-masing.
Di sisi lain, laporan intelijen AS menyebut kemampuan militer Iran memang melemah akibat perang, tetapi belum hancur sepenuhnya. Sekitar dua pertiga peluncur rudal Iran disebut masih bertahan setelah serangan AS.
“Gencatan senjata memberi Iran waktu untuk menggali kembali peluncur rudal yang kemungkinan terkubur akibat serangan sebelumnya,” kata sumber intelijen AS.
Laporan terpisah dari CIA juga menyebut Iran diperkirakan masih mampu bertahan hingga empat bulan di bawah blokade AS tanpa mengalami kehancuran ekonomi total.
Meski gencatan senjata masih berlangsung, pasukan AS dan Iran dilaporkan tetap terlibat baku tembak dalam beberapa hari terakhir di sekitar Selat Hormuz.
AL Iran yang mengandalkan puluhan perahu motor cepat rudal (Fast Boat Missile) mengeklaim telah menembaki kapal perang AS, sebaliknya pihak AS mengaku telah menenggelamkan sejumlah kapal Iran.
(CNN/ns)




