Presiden Trump akan Paksa Iran Buat Kesepakatan

Armada "Nyamuk" Iran terdeiri dari perahu-perahu cepat rudal (Misiles's Fast Boat) siap menghadapi kekuatan militer raksasa AS di Selat Hormuz (foto: Fox News)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku ia tidak akan bersikap sabar lagi terhadap Iran dan akan mendesaknya membuat kesepakatan damai dengan Washington.

“Saya tidak akan bisa jauh lebih sabar lagi. Mereka harus membuat ksepakatan,” ujar Trump dalam sebuah wawancara di program “Hannity” Fox News yang disiarkan pada Kamis (14/5) malam waktu setempat.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengeluarkan pernyataan terkait upaya AS untuk mengambil simpanan uranium yang diperkaya milik Iran.

Menurut dia, langkah tersebut lebih berkaitan dengan persepsi publik daripada masalah keamanan yang mendesak. “Saya rasa itu tidak perlu, kecuali dari sudut pandang hubungan masyarakat,” kata Trump.

Meskipun demikian, Trump mengaku tetap menginginkan pengalihan materi nuklir tersebut demi ketenangan pribadi.

“Sebenarnya, saya merasa lebih baik jika saya mendapatkannya. Tapi menurut saya, itu lebih untuk urusan hubungan masyarakat daripada hal lainnya,” tambah Trump.

Pernyataan ini muncul di tengah sikap resmi AS yang bersikeras bahwa Iran harus memindahkan stok uranium yang sangat diperkaya ke luar negeri.

Trump juga mendesak Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri, sebagaimana dilansir AFP.

Sebagai salah satu dari sembilan negara yang diakui memiliki senjata nuklir, AS terus menekan Iran untuk tunduk pada tuntutan tersebut.

Di sisi lain, Teheran yang merupakan anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir secara konsisten membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Iran menegaskan hak mereka untuk mengembangkan teknologi nuklir guna tujuan damai, termasuk pengayaan uranium.

Namun, ketegangan meningkat setelah juru bicara parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyatakan pada Selasa lalu bahwa negaranya dapat meningkatkan pengayaan uranium hingga kemurnian 90 persen.

Level uranium yang diperkaya hingga 90 persen tersebut dianggap setara dengan kebutuhan senjata nuklir. Di satu sisi, kondisi di lapangan saat ini masih sangat cair.

Gencatan senjata yang telah berlangsung selama lebih dari lima minggu antara AS dan Iran tetap rapuh. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kedua belah pihak mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang.

China dukung pembukaan Selat Hormuz?
Sementara itu, Presiden Trump yang sedang berada di Beijing mengeklaim bahwa Presiden China Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan berjanji tak akan mengirim alutsista kepada Iran di tengah konflik dengan AS dan Israel.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara di acara ‘Hannity’ yang tayang di Fox News, Kamis (14/5), usai pertemuannya dengan Xi di Beijing.

“Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer… dia mengatakan itu dengan sangat tegas,” kata Trump merujuk pada Xi mengutip AFP.

Trump juga menyebut Xi berharap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

“Dia ingin melihat Selat Hormuz tetap terbuka, dan mengatakan, ‘jika saya bisa membantu dengan cara apa pun, saya ingin membantu’,” ujar Trump menirukan pernyataan Xi.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Ketegangan di kawasan itu meningkat setelah konflik Iran dengan AS dan Israel memicu kekhawatiran terhadap keamanan distribusi energi global.

Ending konflik AS dan Iran sukar ditebak. Trump berupaya tarik-ulur untuk mendapatkan dukungan dari Kongres dan juga konstituennya menjelang Pemilu sela November mendatang, sebaliknya Iran juga berusaha medapatkan dukungan dari rakyatnya dan masyrakat dunia.

Iran dilaporkan sudah mengadakan latihan besar-besaran dengan mengerahkan ratusan perahu cepat rudal (Missile’s Fast Boat) yang tergabung dalam “Armada Semut” untuk menghadapi kekuatan raksasa militer AS yang sudah menghadirkan belasan kapal perang AS termasuk tiga kapal induknya di perairan Laut Arab. (CNN/AFP/Kompas/com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here