TREN penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih terus berlanjut sepanjang Mei 2026 seiring konflik di Timur Tengah antara koalisi AS dan Israel vs Iran dan kebijakan moneter ketat Bank Central AS (the Fed).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi, speri ditulis Berita Satu (15/5) memprediksi, rupiah berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal belum mereda.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (15/5) pukul 09.23 WIB, rupiah berada di level Rp 17.613 per dolar AS atau melemah 0,48% dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.529 per dolar AS.
Menjelang siang, (pukul 13.31 WIB), rupiah sedikit menguat ke level Rp 17.579 per dolar AS, sedangkan dalam penutupan prdagangan, Jumat sore, nilai tukar spot kembali ditutup melemah melemah 0,39 persen menjadi Rp17.597.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus,” kata Ibrahim kepada Beritasatu.com, Jumat (15/5).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Faktor tersebut membuat mata uang negara berkembang kembali tertekan, termasuk rupiah.
“Hari ini pun juga dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah,” ujarnya.
Ibrahim menilai lonjakan harga minyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz.
Ia menyoroti memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di wilayah tersebut.
“Setelah Iran melakukan latihan perang secara besar-besaran di Selat Hormuz, ini membuat ketegangan bagi Amerika, kemudian Iran, dan negara-negara di Timur Tengah,” ucap Ibrahim.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Karena itu, setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan mendorong harga minyak naik.
Harga minyak acuan Brent, Jumat (15/5) berada pada kisaran 106,32 – 107,77 dolar AS per barel, sedangkan jenis WTI 101,71 – 102,18 dolar AS per barel.
Kebijakan the Fed
Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menyoroti ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Ia memperkirakan The Fed belum akan menurunkan suku bunga pada 2026 karena inflasi AS masih tinggi.
“Ada kemungkinan besar di tahun 2026 Bank Sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Kondisi tersebut diperkirakan membuat indeks dolar AS tetap kuat sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar akibat meningkatnya permintaan dolar di pasar global.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai tingginya impor minyak mentah dan besarnya subsidi energi turut membebani nilai tukar rupiah.
“Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar impor minyak mentah Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak bersubsidi.
“Dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor, 85% adalah untuk subsidi bahan bakar minyak untuk masyarakat,” tambah Ibrahim.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia dinilai terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah.
“Bank Indonesia terus melakukan intervensi ya kita lihat bahwa tadi pagi di Rp 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp 17.600,” ungkapnya.
Ibrahim juga memperkirakan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 hingga 50 basis poin apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
“Bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.
Meski rupiah berada dalam tekanan, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Salah satu faktor pendukungnya adalah dominasi investor domestik di pasar obligasi nasional.
“Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90% obligasi yang membeli adalah domestik,” ujarnya. (Beritasatu.com/ns)





