Bocah ini Rela Menjadi Pemulung Demi Wujudkan Cita-Cita jadi Dokter Gigi

foto ilustrasi

JAKARTA – Memasuki usia ke-71 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagian masyarakat belum juga merasakan kemerdekaan, khususnya di sektor ekonomi. Hidup di bawah garis kemiskinan membuat masyarakat harus terus bekerja keras demi bisa bertahan hidup.

Salah satu yang merasakan getirnya kehidupan tersebut adalah Dian Nurlianti, bocah yang masih duduk di bangku kelas IV SDN 18 Baruga, Kendari, Sulawesi Tenggara. Setiap pulang sekolah, Dian rela “membuang” kebahagiaannya untuk bermain, setelah menggantungkan seragamnya di balik pintu Dian lantas berkeliling memungut sampah guna bisa bertahan hidup dari kerasnya kehidupan kota.

Selain mencari nafkah Dian rela menghabiskan waktunya untuk memulung menyusuri jalanan kota Kendari dibawah sengatan matahari tak lain demi bisa mewujudkan cita-cita besarnya menjadi dokter gigi. Dokter gigi merupakan impian besar Dian sejak kecil, Dian mengaku cita-cita itu mulai terbersit dibenaknya ketika dirinya menderita sakit gigi.

“Awalnya gigiku sakit dan goyang-goyang langsung saya cabut sendiri,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dian tak sendiri, terkadang ia kerap ditemani sang nenek tercinta Sunarsih (56) untuk mengkayuh sepeda gerobak  hingga puluhan kilometer. Dian tak pernah merasa malu setiap kali dirinya harus memungut botol dan gelas mineral. Saking semangatnya bekerja, bocah ini pernah menabrak mobil yang tengah diparkir di pinggir jalan.

“Itu pengalamanku yang tidak terlupakan, ketika saya kayuh sepeda gerobak mataku liat bak sampah ternyata di depan ada mobil parkir dan langsung saya tabrak. Jatuh tapi tidak luka,” terangnya.

Semua barang rongsokan yang ditemukan di jalanan kemudian dikumpulkan lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari keuntungan yang didapat, tak lupa Dian selalu menyisihkannya untuk biaya sekolah dicelengan ayam miliknya yang terbuat dari tanah liat.

Hasil dari memulung barang plastik bekas bersama neneknya bisa laku dijual dalam seminggu mencapai Rp 100.000 dan paling tinggi Rp 200.000. Tingginya biaya hidup diperkotaan tentu membuat Dian harus lebih giat bekerja, apalagi biaya kebutuhan sekolah dan pokok semakin hari semakin mahal.

“Kalau tidak cukup uang ya terpaksa tidak bisa bayar buku pelajaran, saya tidak dapat kartu Indonesia pintar seperti anak lain yang kurang mampu,” tutur Niar di gubuk tempatnya tinggal bersama sang nenek seluas 3 x 1,5 meter Rabu (17/8/2016).

Digubuk tersebut Dian bersama sang nenek mengaku hanya menumpang, ia tak menyewa, pemilik gubuk adalah Mbak Darso bos pengumpul barang bekas. Setiap bulan Dian hanya diwajibkan membayar air dan listrik. Menurut sang nenek, Dian di rawat sejak kecil lantaran kedua orangtuanya bercerai.

“Orangtuanya berpisah, cucuku ini saya pelihara sejak masih kecil. Cucuku ini sangat sabar dan semangat kalau ke sekolah,” kata Sunarsih.

Ia bahkan pernah melarang sang cucu untuk tidak memulung karena harus fokus sekolah, tapi Dian berkeras tetap membantunya.

Untuk itu, Sunarsih berharap sang cucunya bisa sukses dalam pendidikan dan meraih cita-citanya sebagai dokter.

“Ya, saya selalu berdoa semoga cucuku bisa sekolah minimal sampai tingkat SMA, syukur kalau menikmati bangku kuliah,” harapnya.

Advertisement