NILAI mata uang rupiah sudah tembus Rp17.900-an per dolar AS, Kamis (28/5) melanjutkan tren pelemahan mata uang garuda tersebut terhadap mata uang Paman Sam itu sejak April lalu.
Dikutip dari data Investing, dolar AS, Kamis (28/5) hari ini sempat berada di level Rp 17.949. Secara harian Dolar AS bergerak dalam rentang Rp 17.772 hingga Rp 17.995.
Sedangkan berdasarkan data Google Finance, Dolar AS juga tercatat sempat berada di level Rp 17.904 pada pukul 04.00 UTC. Meski demikian, posisinya kini berbalik ke level Rp 17.850 atau menguat 0,37 persen.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Dari eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global, terutama di jalur perdagangan minyak Selat Hormuz.
Di sisi lain, ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sehingga menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market.
Tingginya harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global sehingga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
“Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ucapnya.
Sementara dari domestik, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, serta kewajiban utang jatuh tempo. Ibrahim juga menilai pelaku pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan membuat ruang stabilisasi rupiah oleh BI menjadi semakin terbatas meski bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valas.
“BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar,” ujarnya.
Faktor internal
Selain faktor eksternal seperti kebijakan moneter ketat dengan memberlakukan sukubunga tinggi yang diberlakukan Bank Central Amerika Serikat (the Fed) dan konflik berkepanjangan antara koalisi AS dan Israel vs Iran yang melambungkan harga minyak global, masalah internal juga berkontribus pada pelemahan rupiah.
Faktor internal yang ikut berkontribusi daam pelemahan rupiah a.l. aliran modal asing (capial outflow), turunnya daya beli masyarakat, defisit trasaksi berjalan dan ketidakpastian kebijkan ekonomi dan politik dalam negeri yang membuat investor ragu.
Inflasi dalam negeri yang lebih tinggi membuat daya saing produk Indonesia ikut melemah, postur fiskal yang menyempit, beban cicilan dan hutang swasta dan pemerintah menuntut ketersediaan valuta asing.
Ketidakastian terhadap kebijakan ekonomi, isu politik hingga kondisi makro ekonomi (rasio utang) juga ikut memicu kekhawatiran pasar sehingga menggerus kepecayaan investor.
Kebijakan BI menaikkan Rate dari 4,75 ke 5,25 persen 28 Mei lalu dan intervesi pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sering tak mampu menahan tekanan global saat fundamental ekonomi domestik tertekan.
Jadi. selain faktor eksternal, di dalam negeri,pemerintah harus terus mengerjakan segudang “PR” untuk mendorog penguatan nilai tukar rupiah. (ns)




