JAKARTA, KBKNEWS.id – Cendekiawan Yudi Latif melontarkan kritik tajam terhadap kondisi Indonesia saat ini dalam pidato kebangsaan memperingati Hari Lahir Pancasila.
Menurutnya, ancaman terbesar yang dihadapi bangsa bukan lagi berasal dari penjajah asing, melainkan dari praktik-praktik penindasan yang dilakukan oleh sesama anak bangsa.
Pidato tersebut disampaikan Yudi dalam acara yang digelar Majelis Musyawarah Sunda (MMS) di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin (1/6/2026).
Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menilai Indonesia tengah menghadapi bentuk kolonialisme baru yang pelakunya adalah bangsa sendiri.
“Operator kolonialisme dan penindasan di Indonesia saat ini bukan bangsa asing lagi. Penindasan dilakukan bangsa Indonesia sendiri yang mengembangkan watak kolonialisme yang jauh lebih eksesif,” ujar Yudi.
Ia mengutip pesan Presiden pertama RI Soekarno yang pernah mengingatkan bahwa perjuangan setelah kemerdekaan akan lebih berat karena harus menghadapi persoalan yang muncul dari dalam bangsa sendiri.
Menurut Yudi, salah satu sumber persoalan tersebut adalah warisan mentalitas kolonial yang masih bertahan hingga sekarang. Mentalitas itu, katanya, membuat sebagian pihak menganggap sumber daya alam dan wilayah tertentu sebagai ruang yang bisa dieksploitasi tanpa mempertimbangkan hak masyarakat setempat.
Yudi mencontohkan kondisi yang terjadi di sejumlah kawasan industri dan pertambangan, seperti Morowali dan Papua. Ia menilai masyarakat lokal kerap kehilangan akses terhadap tanah dan sumber penghidupan akibat pembangunan yang tidak berpihak kepada mereka.
“Industrialisasi masuk, warga setempat dianggap tidak ada. Mereka kehilangan akses pada lahan dan tanah sehingga menjadi kelompok yang paling miskin,” katanya.
Selain menyoroti persoalan ketimpangan sosial, Yudi juga mengkritik kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang dinilai mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan generasi mendatang.
Menurut dia, eksploitasi sumber daya alam yang terus berlangsung menunjukkan seolah-olah masa depan tidak memiliki penghuni yang harus dipikirkan. Ia menyinggung posisi Indonesia dalam Indeks Solidaritas Antargenerasi yang masih tertinggal dibanding sejumlah negara lain di kawasan.
Yudi juga menyoroti alih fungsi kawasan konservasi dan aktivitas pertambangan di sejumlah daerah yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dalam jangka panjang.
Di akhir pidatonya, Yudi menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya mencapai cita-cita yang diimpikan para pendiri bangsa. Baginya, kemerdekaan merupakan “jembatan emas” menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
“Mimpi Indonesia tidak pernah salah. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita mewujudkannya. Kemerdekaan itu belum selesai, kita baru memulai perjalanan menuju cita-cita tersebut,” ujar Yudi, dilansir kompas.com.





