
JAKARTA – KBKNEWS – 24/6 LEBIH dari 1.000 kasus dengan 267 kematian terjadi di Republik Demokrasi Kongo,Benua Hitam Afrika akibat wabah virus ebola yang dikenal langka.
Pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pengarahan di Jenewa, Selasa (23/6) menyebut, jumlah korban kasus tersebut terkonfirmasi tertinggi pada bulan pertama dibandingkan dengan wabah Ebola mana pun yang pernah terjadi di Afrika.
“Ini jumlah kasus terkonfirmasi terbesar pada bulan pertama dari sebuah wabah penyakit Ebola di Afrika,” kata Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, dalam sebuah siaran pers.
WHO secara resmi mengonfirmasi wabah tersebut pada 15 Mei, namun para ahli meyakini virus itu kemungkinan telah beredar selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelumnya.
Puluhan kasus dikonfirmasi di kamp pengungsian di Kongo timur
“Tanggapan harus diperluas agar mampu mengikuti laju penyebaran wabah yang terus berkembang, dan hal itu mulai dilakukan,” kata Mahamud setelah kembali dari kunjungan pekan lalu ke pusat perawatan di Bunia, yang menjadi episentrum wabah.
Kasus kini juga telah dikonfirmasi di sedikitnya tiga kamp pengungsian yang padat penduduknya di wilayah timur Kongo yang dilanda konflik.
Abdoulaye Wone dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan, 25 kasus telah dikonfirmasi di kamp-kamp tersebut, termasuk 14 kematian.
Sejak 1970-an
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), telah terjadi lebih dari 20 wabah Ebola di Afrika sejak 1970-an.
Dua wabah yang paling mematikan terjadi di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia di Afrika Barat yang menewaskan 11.000 orang antara 2014 dan 2016, serta wabah lain di Kongo yang dimulai pada 2018 dengan 2.229 kematian yang tercatat.
Sementara itu, Menkes Kenya, Aden Duale, meyakinkan pengadilan Kenya, bahwa ia telah memerintahkan penghentian segera pembangunan fasilitas karantina Ebola yang AS di sebuah pangkalan udara.
Duale pada Senin (22/6) dinyatakan melakukan penghinaan terhadap pengadilan karena gagal mematuhi perintah sebelumnya untuk menghentikan pembangunan sambil menunggu evaluasi dari lembaga peradilan.
Fasilitas berupa tenda di kota Nanyuki, Kenya bagian tengah, direncanakan menjadi pusat perawatan bagi warga negara AS apabila mereka tertular Ebola selama wabah di Republik Demokratik Kongo.
Rencana pembangunan yang pertama kali diumumkan pada Mei tersebut memicu aksi protes yang dalam beberapa kesempatan berujung pada kekerasan, di mana tiga orang tewas di sekitar lokasi.
Satu-satunya warga negara AS yang sejauh ini tertular Ebola, seorang dokter yang bekerja sebagai misionaris medis di pusat wabah di wilayah timur RDK , telah diterbangkan ke Jerman untuk menjalani perawatan di fasilitas spesialis di Berlin.
Kenya memang tidak berbatasan langsung dengan RDK, tetapi negara tersebut berada tepat di sebelah timur Uganda, yang berbatasan dengan episentrum wabah di Provinsi Ituri, wilayah timur Republik Demokratik Kongo.
Ditularkan dari primata
Penyakit virus Ebola (EVD) adalah demam berdarah virus zoonosis parah pada manusia dan primata yang disebabkan oleh genus Ebolavirus.
Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, berkisar antara 25 persen hingga 90 persen dengan rata-rata sekitar 50 persen.
Menurut Wikipedia, infeksi awal biasanya terjadi akibat kontak dengan hewan liar yang terinfeksi, seperti kelelawar buah atau kera.
Gejala Klinis (infeksi) biasanya muncul secara mendadak setelah masa inkubasi selama 2 hingga 21 hari.
Perkembangan gejala terbagi menjadi dua fase utama:Fase Awal (Gejala Kering): ditandai demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri otot, lemas, dan sakit tenggorokan.
Fase Lanjutan (Gejala Basah): diikuti muntah, diare, ruam kulit, serta penurunan fungsi hati dan ginjal.
Pada kondisi kritis, pasien mengalami pendarahan internal dan eksternal. Spesies VirusBerdasarkan informasi klasifikasi taksonomi, terdapat enam spesies Ebolavirus yang telah diidentifikasi: Zaire ebolavirus (Paling mematikan dan sering memicu wabah besar), Sudan ebolavirus, Bundibugyo ebolavirus.
Ada lagi Taï Forest ebolavirus, Reston ebolavirus (Tidak menyebabkan penyakit pada manusia), Bombali ebolavirus (Ditemukan pada kelelawar).
Penularan dan PencegahanVirus menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan dari orang yang terinfeksi.
Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi cairan tersebut. Penanganan sejak dini menggunakan perawatan suportif intensif seperti rehidrasi cairan sangat membantu meningkatkan peluang hidup pasien.
Saat ini, vaksin dan pengobatan berbasis antibodi monoklonal telah disetujui, khususnya untuk spesies virus Zaire ebolavirus. (Detik.com/ns)



