Pentingnya Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Kehidupan

Ilustrasi pria berdoa (Foto: Generated AI)
JAKARTA, KBKNEWS.ID – Kehidupan manusia di dunia ini tidak pernah luput dari berbagai macam ujian, cobaan, dan ketetapan yang sering kali tidak sesuai dengan keinginan maupun cita-cita yang diharapkan. Dalam menghadapi dinamika hidup yang penuh ketidakpastian ini, kesabaran menjadi sebuah sifat mutlak yang harus senantiasa dilazimi oleh setiap individu.
Jangankan manusia biasa, bahkan Nabi Muhammad SAW pun diperintahkan langsung oleh Allah SWT untuk bersabar, sebagaimana yang tertuang dalam Alquran.
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah…” (QS. An-Nahl: 127)
Melalui kisah para nabi terdahulu, Allah SWT mengokohkan hati Rasulullah agar terus konsisten dan menaikkan level kesabarannya dalam berdakwah. Oleh karena itu, saling menasihati dalam kesabaran merupakan ciri utama orang beriman agar terhindar dari kerugian hidup.
Kaidah pertama yang paling mendasar mengenai sabar adalah memahami bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam, yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi musibah atau takdir yang pahit.
Sering kali, masyarakat awam menyempitkan makna sabar hanya pada poin ketiga saja, yaitu saat tertimpa musibah. Padahal, konsistensi untuk mendirikan salat lima waktu, bersedekah, serta menahan diri dari godaan maksiat di era digital seperti sekarang ini juga memerlukan energi kesabaran yang sangat tinggi.
Ketiga jenis sabar ini semuanya dicintai oleh Allah SWT dan memiliki kedudukan yang mulia dalam agama.Dari ketiga macam tersebut, para ulama mengerucutkannya lagi menjadi dua kategori besar berdasarkan pilihan seseorangan: sabar ikhtiyari (pilihan) dan sabar idhthirari (terpaksa).
Sabar ikhtiyari merujuk pada situasi di mana seseorang memiliki pilihan untuk patuh atau melanggar, seperti memilih bangkit salat subuh atau menolak akses video maksiat. Sebaliknya, sabar idhthirari terjadi ketika seseorang dihadapkan pada musibah yang tidak bisa dihindari atau dipilih, seperti kematian anggota keluarga atau kehilangan harta benda.
Secara umum, sabar pilihan dinilai lebih utama secara jenis karena seseorang secara sadar memilih patuh kepada Allah meskipun memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya. Kaidah selanjutnya membahas tentang tingkatan sikap manusia saat menghadapi ketetapan Allah, yang dimulai dari tingkatan terendah yaitu jaza’ atau berkeluh kesah.
Berkeluh kesah, memaki keadaan, atau mengekspresikan ketidakpuasan secara berlebihan hukumnya adalah dosa. Level minimal yang wajib dipenuhi oleh seorang muslim adalah menahan diri (sabar), yaitu menahan lisan dan anggota tubuh dari perbuatan protes terhadap keputusan Allah.
Di atas sabar, terdapat tingkatan rida di mana hati menerima ketetapan tanpa ada gejolak, dan tingkatan tertinggi adalah syukur, di mana seseorang justru memuji Allah atas musibah yang menimpanya karena meyakini ada hikmah besar di baliknya. Satu hal krusial yang harus disadari adalah bahwa manusia tidak akan pernah mampu bersabar tanpa adanya izin dan pertolongan dari Allah SWT.
Kesabaran bukanlah hasil dari kehebatan analisis, pengalaman hidup, atau kekuatan pribadi seseorang, melainkan murni karunia dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, bersandar pada diri sendiri saat menghadapi ujian hanya akan membuat kesabaran tersebut cepat pupus dan runtuh. Kita diperintahkan untuk selalu berdoa memohon keteguhan hati dan curahan kesabaran yang luas dari Allah, terutama ketika badai ujian sedang melanda kehidupan kita.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas/hitungan.” (QS. Az-Zumar: 10)
Disarikan dari ceramah Ustaz Firanda Andirja berjudul “Semakin Pedih Semakin Indah” dalam Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=PWlYY-jBAgU
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here