JAKARTA, KBKNews.id – Bulan Muharram merupakan salah satu momentum yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Di tengah masyarakat, khususnya dalam budaya Jawa, bulan ini sering dikenal sebagai bulan Suro. Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang memandang bulan Suro dengan penuh kemandangan atau menganggapnya sebagai bulan sial yang menyeramkan sehingga muncul berbagai mitos dan pantangan ritual yang sebenarnya tidak memiliki dasar.
Padahal, dalam pandangan Islam, bulan Muharram justru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus melabeli bulan ini dengan sebutan *Syahrullah* atau Bulan Allah. Penyematan nama ini menandakan betapa agungnya Muharram di mata syariat, karena namanya diturunkan langsung melalui wahyu, bukan dari tradisi penamaan masyarakat jahiliah terdahulu.
Karena statusnya yang mulia sebagai bulan Allah, sangat tidak etis apabila seorang muslim menganggap bulan ini membawa kesialan. Menganggap waktu atau bulan tertentu sebagai pembawa sial dalam Islam dikenal dengan istilah *thiyarah*. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras melalui sabdanya:
الِطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الِطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الِطِّيَرَةُ شِرْكٌ
Meyakini tanda kesialan adalah kesyirikan (beliau mengulangnya tiga kali). (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538).
Keistimewaan utama yang ditekankan di bulan Muharram ini adalah ibadah puasa sunah. Secara umum, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak puasa di sepanjang bulan ini. Hal ini didasarkan pada hadis sahih riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ
Puasa yang paling afdal setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. (HR. Muslim No. 1163)
Di antara seluruh hari di bulan Muharram, terdapat satu hari yang paling utama dan sangat ditekankan untuk berpuasa, yaitu hari ke-10 yang disebut hari Asyura. Puasa Asyura ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman nabi-nabi terdahulu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dan tiba di kota Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga sedang menjalankan puasa pada hari tersebut.
Saat Nabi bertanya mengenai alasan mereka berpuasa, orang-orang Yahudi menjawab: “Hari ini adalah hari di mana Allah memenangkan dan menyelamatkan Musa ‘alaihis salam atas Firaun.” Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku lebih berhak untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada Musa daripada kalian.” Sejak saat itulah beliau memerintahkan para sahabat untuk menunaikan puasa Asyura.
Keutamaan yang paling dinantikan dari Puasa Asyura ini adalah ganjaran pengampunan dosa yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Berpuasa di hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Allah menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat. (HR. Muslim no. 1162)
Mengingat besarnya pahala tersebut, umat Islam tentu tidak ingin melewatkannya, meskipun terkadang muncul perbedaan dalam penetapan awal bulan 1 Muharram. Berbeda dengan Ramadan atau Zulhijah, pemerintah biasanya tidak mengadakan sidang isbat untuk Muharram, melainkan menggunakan indikator hari libur nasional (tanggal merah). Jika terjadi keraguan atau ketidakjelasan tanggal, ulama seperti Imam Ahmad menyarankan untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, agar pasti mendapatkan hari Asyura.
Di sisi lain, umat Islam harus berhati-hati terhadap amalan-amalan palsu (tidak sahih) yang sering beredar menjelang 10 Muharram. Contohnya adalah hadis tentang keutamaan mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura yang diklaim bisa mengangkat derajat sebanyak helai rambutnya. Para ulama telah menyepakati bahwa hadis tersebut berstatus mungkar atau palsu, sehingga tidak boleh diamalkan atau diyakini sebagai sabda Nabi.
Oleh karena itu, sebagai muslim yang bijak, kita harus menjauhi dua sikap ekstrem yang sering muncul pada hari Asyura, baik ritual meratapi kematian secara berlebihan seperti kelompok Syiah, maupun membuat perayaan tandingan yang tidak berdalil. Satu-satunya amalan sahih dan penuh keutamaan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Asyura hanyalah ibadah puasa, yang murni kita lakukan sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Disarikan dari ceramah berjudul “Mitos Suro, Muharram, Puasa Asyura & Beda Hari 10 Muharram” oleh Ustaz Ammi Nur Baits





