Lagi, 707 murid dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan

Sudah sekitar 34.000 siswa sekolah menjadi korban keracunan MBG sejak program tersebut operasioal pada awal 2025 (foto: BBC)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 2/8 – KASUS keracunan 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang yang saat ini sedang diinvestigasi pihak berwajib, menambah deretan kasus keracunan akibat mengonsmsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BGN Sudaryono di Jakarta, Minggu (2/8) mengungkapkan, hasil pemeriksaan akan keluar dalam 5-7 hari ke depan.

“Kita lagi cek di lab Dinas Kesehatan yang butuh waktu lima sampai tujuh hari. Setelah itu baru kita bisa lihat hasil lab-nya,” kata Sudaryono, dalam akun TikTok pribadinya yang dibagikan langsung kepada Kompas.com, Minggu (2/7).

Sementara menunggu hasil tes lab, BGN membekukan sementara (suspend) operasional SPPG Karangturi.

Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga insiden dipicu oleh beberapa bahan makanan, meliputi daun singkong hingga bumbu rendang; serta waktu memasak yang terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.

“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain,” ucap dia.

Kesimpulan itu didapat ketika sejumlah sekolah lain yang mendapat menu dari SPPG yang sama, tidak mengalami dugaan keracunan. Bedanya, menu untuk sekolah lain didistribusikan lebih pagi.

“Jadi dari mulai jam 09.00 (malam) sudah mulai masak. Kemudian didistribusikan sekitar jam 09.00 dan jam 10.00 (pagi). Jadi ini cukup lama, karena yang diberikan makan bukan hanya SMK Negeri 6, tetapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah sekolah yang lain itu diberikan lebih pagi. Jadi kondisi makanannya masih fresh, masih baik,” beber Sudaryono.

Ia menekankan, BGN tengah mempersiapkan sistem pemantauan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Sistem tersebut akan mendeteksi waktu masak, waktu persiapan, hingga waktu distribusi secara real-time. Sudaryono berharap, rencana ini selesai dalam dua minggu ke depan.
Dengan begitu, orang tua bisa segera melacak dan melihat menu yang akan dimakan sang buah hati.

“Kita harapkan orang tua siswa, guru, dan juga Dinkes bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan. Semua harus tersistem kita termonitor semua.

“Yang bisa dimonitor oleh semua orang,” ungkap Sudaryono dan dia juga mengingatkan agar SPPG senantiasa mengikuti SOP yang telah diatur.

Menurut catatan Jarinan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sejak beroperasi pada awal 2025 sampai April 2026 ada 33.626 siswa di berbagai sekolah yang mengalami keracunan setelah menyantap MBG.

Pengelolaan MBG juga ditandai dugaan sejumlah skandal, tercermin dari penetapan tiga tersangka terkait kasus tata kelola MBG kepada Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana dan Wakil Kepala BGN Lodewijk Pusung dan Sony Sonjaya.

Kasus-kasus kracunan murid yang menyantap MBG kemungkinan karena pengunaan bahan mentah yang tidak layak deni mengejar keuntungan oleh para SPPG, penempatan makanan ang tidak layak atau makanan rusak dalam proses transportasi. (kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here