Dompet Dhuafa Edukasi Pelajar Kupang soal TBC, Penyintas Turut Berbagi Kisah

JAKARTA, KBKNEWS.id  — Dompet Dhuafa melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperluas edukasi mengenai tuberkulosis (TBC) kepada generasi muda.

Salah satunya dilakukan melalui program LKC Dompet Dhuafa Goes to School di SMAN 4 Kupang, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang.

Kegiatan bertajuk “Semangat Anak Muda untuk Eliminasi TBC” tersebut digelar pada Rabu (15/7/2026) dan diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri dari siswa, siswi, serta guru. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pencegahan, gejala, hingga pengobatan TBC.

Kepala LKC Dompet Dhuafa NTT, Ummi Kalsum Muhammad, mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam membantu menyebarkan informasi yang benar mengenai TBC di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan informasi dan pemahaman yang benar mengenai TBC kepada para siswa. Kami berharap mereka tidak hanya mampu menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi penyampai informasi bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya,” ujar Ummi.

Edukasi tersebut dinilai penting karena para pelajar berinteraksi langsung dengan anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan pemahaman yang baik, mereka diharapkan mampu mengenali gejala TBC sejak dini serta mendorong orang yang mengalami keluhan untuk segera memeriksakan diri.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua jam itu, peserta mendapatkan penyuluhan dari Penanggung Jawab Program TBC Puskesmas Oesapa, Lambertus Boro, S.Kep., Ns.

Materi yang diberikan mencakup cara penularan TBC, gejala yang perlu diwaspadai, langkah pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan dan menjalani pengobatan hingga tuntas.

Setelah penyuluhan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para siswa berkesempatan menyampaikan pertanyaan kepada narasumber, termasuk kepada seorang penyintas TBC yang hadir dan membagikan pengalaman pribadinya.

Kehadiran penyintas menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Ia menceritakan perjalanan mulai dari menjalani pemeriksaan, mengikuti pengobatan, hingga akhirnya dinyatakan sembuh.

Kisah tersebut memberikan gambaran langsung kepada para siswa bahwa TBC dapat disembuhkan apabila terdeteksi dan ditangani dengan tepat. Selain itu, para pelajar juga diajak untuk tidak memberikan stigma kepada pasien maupun penyintas TBC.

Ummi mengatakan pengalaman penyintas dapat menjadi pembelajaran bagi siswa mengenai pentingnya dukungan terhadap pasien.

“Pengalaman penyintas memberikan pembelajaran bahwa TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan dijalani sampai tuntas. Melalui cerita tersebut, para siswa diharapkan semakin memahami pentingnya memberikan dukungan kepada pasien serta tidak menjauhi atau memberikan stigma kepada penyintas TBC,” jelasnya.

Kuis Mitos atau Fakta

Untuk membuat edukasi lebih menarik, panitia juga menggelar kuis “Mitos atau Fakta”. Para siswa diajak menguji pengetahuan mereka tentang berbagai informasi yang beredar mengenai TBC.

Setiap jawaban kemudian dibahas bersama untuk meluruskan berbagai anggapan yang keliru. Dengan cara tersebut, peserta diharapkan dapat memahami informasi kesehatan secara lebih tepat dan tidak mudah percaya pada mitos mengenai TBC.

Ummi berharap pengetahuan yang diperoleh para pelajar tidak berhenti di lingkungan sekolah. Mereka diharapkan dapat meneruskannya kepada keluarga dan masyarakat sekitar.

“Kami berharap para siswa dapat membawa informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Semangat anak muda sangat dibutuhkan untuk mengajak orang-orang di sekitarnya mengenali gejala TBC, melakukan pemeriksaan apabila mengalami keluhan, dan mendukung pasien agar menyelesaikan pengobatan,” tuturnya.

Kegiatan bersama SMAN 4 Kupang ini menjadi bagian dari komitmen LKC Dompet Dhuafa NTT dan Puskesmas Oesapa dalam memperluas edukasi TBC. Pelajar diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membantu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap pasien TBC.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here