Korut Ancam Respons Tegas Latgab AS-Korsel

Latgab AS dan Korsel. Pasukan tank sedang melintasi jembatan apung di S. Namhan, Yeoju, Korsel. AS dan Korsel gelar Latgab: Ulchi Freedom SHield 17 - 27 Agustus. (foto: AP)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 14/8 – KOREA UTARA mengecam rencana latihan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) dan mengancam akan melakukan respons tegas.

Pyongyang seperti dikutip Anadolu dan Al Jazeera (14/8) memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap latihan gabungan, yang disebut oleh Korut sebagai “latihan untuk perang agresif”.

Latihan militer skala besar “Ulchi Freedom Shield” dijadwalkan digelar mulai Senin (17/8) hingga 27 Agustus.

Latihan ini akan melibatkan puluhan ribu tentara, peralatan militer, dan para personel militer dari AS, Korsel, dan negara-negara anggota Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Latihan militer gabungan ini akan mencakup simulasi penanggulangan drone, gangguan GPS, dan serangan siber, seiring upaya AS dan sekutunya beradaptasi dengan kemampuan Korut yang terus berkembang.

“AS mengumumkan bahwa latihan kali ini sangat berbeda dari latihan-latihan dalam lima tahun terakhir, dan bertujuan untuk menguasai kemampuan berperang berdasarkan aspek-aspek baru peperangan modern,” kata jubir Kemlu Korut, yang tidak disebut namanya, dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantor berita Korut, KCNA.

“Merupakan prinsip konsisten kami dalam menjamin keamanan untuk merespons tingkat ancaman baru dengan tingkat pencegahan baru,” tegas juru bicara tersebut.

Jubir Kemlu Korut itu mengatakan bahwa latihan tersebut akan mencakup manuver lapangan, serta latihan perang menggunakan drone, perang elektronik, dan perang siber yang dirancang sebagai simulasi kondisi pertempuran modern.

Pyongyang menolak klaim Washington dan Seoul yang menyebut latihan gabungan itu merupakan latihan “rutin tahunan” dan bersifat “defensif”.

Saling kecam terkait latihan perang-perangan yang dilakukan, baik oleh kubu AS bersama Korsel dan Korut di pihalk lain adalah hal yang biasaya dilakukan oleh rezim dua negara serumpun yang masih dalam status perang sejak Perang Korea (1951 – 1953).                  (Al Jazeera/Anadolu/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here