Ramai Banyak yang Merasa Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Ini Penjelasan BPS

JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil yang terdapat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bukanlah label yang secara langsung menunjukkan seseorang kaya atau miskin.

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan masyarakat dalam DTSEN dikelompokkan menjadi 10 desil berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Desil 1 menunjukkan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah. Sementara itu, Desil 10 merupakan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.

Menurut Ari, penentuan desil tidak hanya berdasarkan besarnya penghasilan. DTSEN dibangun dari sejumlah sumber data, seperti Regsosek, DTKS, dan P3KE. Data tersebut kemudian diperkaya dengan informasi dari PLN, Pertamina, BPJS Kesehatan, serta data administrasi kependudukan.

Berbagai indikator juga digunakan dalam menentukan posisi kesejahteraan keluarga, antara lain pendidikan, pekerjaan, kondisi tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kesehatan, disabilitas, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha.

“Desil bukan angka yang menunjukkan besarnya pendapatan seseorang, melainkan posisi relatif suatu keluarga dalam distribusi tingkat kesejahteraan,” jelas Ari.

BPS juga menjelaskan bahwa status desil seseorang bisa terlihat tidak sesuai dengan kondisi terkini. Hal itu dapat terjadi karena kondisi sosial ekonomi keluarga bersifat dinamis, sementara data memiliki waktu referensi tertentu.

Perubahan seperti kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, perpindahan rumah, perubahan kepemilikan aset, atau kondisi keluarga yang berubah belum tentu langsung tercermin dalam data.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here