China Bangun Pangkalan Lagi di LCS

Alat-alat berat diturunkan dari kapal AL China untuk merampungkan pembangunan Tahap I pangkalan militer di terumbu karang Antilope sehingga memicu perlombaan persenjataan di , LCS. (foto: Kompas.com)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 22/8 – AKTIVITAS militer China di Laut China Selatan (LCS) mau tidak mau mengundang kekhawatiran banyak pihak sehingga dikhawatirkan terjadi perlombaan senjata di kawasan ini.

China dilaporkan oleh The War Zone (22/8) telah menyelesaikan fase pertama pembangunan pulau buatan seluas 607 hektar di Terumbu Karang Antelope, Laut China Selatan.

Pangkalan yang berada di wilayah strategis yang disengketakan ini disiapkan untuk memperkuat jangkauan militer dan kendali Beijing di kawasan tersebut.

Berdasarkan citra satelit Vantor tertanggal 11 Agustus dan analisis Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI), pulau ini dibangun hanya dalam waktu 10 bulan.

Cepatnya pekerjaan pengurukan pasir lebih dari satu juta ton ini tergolong sangat masif jika dibandingkan dengan pembangunan di Kepulauan Spratly satu dekade lalu yang memakan waktu bertahun-tahun.

Di lokasi tersebut, China menyiapkan infrastruktur militer skala besar, mulai dari persiapan landasan pacu sepanjang 3.048 meter, lebar 55 meter, dermaga sepanjang 680 meter yang sanggup menampung kapal perang, hingga struktur berukuran 61 x 61 meter yang identik dengan hanggar pesawat jet.

Kapal Penjaga Pantai China atau China Coast Guard (CCG) juga sudah terlihat bersandar di area dermaga lagoon.

Kehadiran pangkalan ini memperluas payung pertahanan udara serta jaringan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Beijing.

Terumbu Karang Antelope, atau Lingyang Jiao bagi China dan Da Hai Sam bagi Vietnam, terletak di sebelah selatan Pangkalan AL Yulin di Hainan yang menjadi kandang bagi kapal selam serta dua kapal induk China, CNS Shandong dan CNS Fujian.

Meskipun media pemerintah China mengeklaim pulau ini ditujukan untuk kebutuhan sipil dan komersial, pola ini mengulangi narasi pembangunan pulau-pulau sebelumnya.

Janji ini juga bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Xi Jinping pada 2015 saat mendampingi Presiden AS Barack Obama.

“China tidak berniat mengejar militerisasi,” kata Xi saat itu seraya menambahkan,

“Aktivitas konstruksi relevan yang dilakukan China di Kepulauan Nansha tidak menargetkan atau berdampak pada negara mana pun.”

Sebaliknya Senior Fellow AMTI, Greg Poling, menilai keuntungan terbesar pangkalan baru ini ada pada sektor pengintaian dan intelijen darat.

“Saya tidak meragukan bahwa ini memberi keuntungan bagi China untuk menempatkan lebih banyak Coast Guard dan milisi secara permanen di Paracel. Namun, manfaat utamanya adalah komponen ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance),” ujar Poling.

Poling menambahkan, ekspansi reklamasi China di kawasan tersebut diperkirakan akan segera menemui titik jenuh.

“China tidak memiliki banyak area tersisa untuk dikeruk, jadi kecuali China berencana merebut pulau lain, saya tidak melihat mereka akan membangun sesuatu yang substansial lagi,” pungkasnya.

China mengklaim 90 persen kawasan LCS seluas dua juta Km2 yang di peta disebutnya sebagai sembilan garis putus-putus (nine dash-line) dan wilayah operasi nelayan tradisionalnya sampai ke perairan Natuna utara.

Pembangunan pangkalan militer di LCS tentu mengundang negara-negara di sekitarnya untuk ikut berlomba-lomba memperkuat militernya, misalnya Filipina yang sering bersengketa di perairan ini membali rudal anti kapal Brahmos buatan patungan Rusia dan India, sementara Australia membangun kapal selam nuklir, sedangkan Amerika Serikat menggiatkan patroli udara dan lautnya. (the War Zone/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here