MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id — Duka akibat bencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur tidak menyurutkan semangat warga Desa Salama, Kecamatan Reok, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk terus bangkit dan produktif. Di tengah suasana pemulihan, aktivitas warga justru terlihat berdenyut di areal persawahan bawang merah.
Sejumlah petani tampak bergotong royong mencabut dan mengumpulkan hasil panen bawang merah yang terhampar di atas lahan bedengan mereka.
Ghazali, salah seorang pemilik kebun di Desa Salama, menuturkan bahwa bencana gempa sempat membuat aktivitas perawatan ladang terhenti total selama beberapa hari karena warga fokus menyelamatkan diri dan keluarga. Kendati sempat terbengkalai tanpa perawatan intensif, tanaman hortikultura tersebut beruntung tidak mengalami kerusakan fatal. “Alhamdulillah, tanaman bawang ini masih bisa terselamatkan dan sekarang sudah memasuki masa panen dengan hasil yang cukup baik,” kata Ghazali penuh rasa syukur saat ditemui KBKNEWS.id, Jumat (28/8/2026).
Mereka menanam bawang merah sedikit berbeda dengan cara tanam di Pulau Jawa terutama di Brebes, Jawa Tengah. Namun, suasana kekeluargaan khas petani masih tampak seperti memanen bersama dan makan bersama usai panen.
Angin sepoi-sepoi menambah kehangatan petani memanen bersama-sama. Meski demikian, ada beberapa perbedaan antara sawah bawang merah di NTT dan di Pulau Jawa.
Jika dibandingkan dengan sentra produksi utama nasional seperti Brebes di Jawa Tengah, pola budidaya bawang merah di NTT memiliki karakteristik yang sangat berbeda, baik dari segi bentang lahan, sistem pengairan, pilihan benih, hingga skala industrinya.
Secara umum, pertanian bawang merah di Brebes telah lama mengakar sebagai industri agribisnis berskala raksasa nasional yang mapan. Sebaliknya, pertanian bawang merah di NTT lahir sebagai bentuk pertanian adaptif di lahan kering ekstrem yang dalam beberapa tahun terakhir gencar dikembangkan melalui introduksi teknologi tepat guna dan manajemen budidaya modern.
Kontras mencolok terlihat jelas pada karakteristik lahan dan agroklimat kedua daerah. Brebes didominasi oleh hamparan dataran rendah aluvial yang datar, subur, bertekstur lempung hingga liat berpasir, serta diselimuti kelembapan udara yang relatif tinggi. Berbanding terbalik, lahan di NTT didominasi oleh tegalan kering dan perbukitan berbatu dengan sifat tanah alkalis yang gersang serta terpapar intensitas sinar matahari terik secara ekstrem.
Perbedaan kondisi alam tersebut menuntut rekayasa sumber daya air dan sistem pengairan yang berbeda. Di Brebes, petani mengandalkan sistem irigasi teknis teratur yang dialirkan dari sungai melalui parit atau kemalir di sekeliling bedengan sebelum disiramkan ke tanaman. Sementara di NTT, para petani sangat bergantung pada sumur bor, sumur gali, dan embung dengan aplikasi penyiraman hemat air seperti selang pipa dan teknologi sprinkler guna mencegah penguapan serta pemborosan air di tanah tandus.
Dari sisi pendekatan teknologi benih dan varietas, Brebes mempertahankan tradisi turun-temurun penanaman umbi bibit lokal unggulan. Di sisi lain, para petani dan pegiat pertanian di NTT mulai masif mengadopsi teknologi penanaman dari biji botani yang terbukti lebih efisien, produktif, dan tangguh terhadap cuaca kering ekstrem.
Melalui perpaduan daya tahan alami varietas tanaman dan ketangguhan mental para petaninya, panen raya di Desa Salama ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan alam dan ancaman bencana tidak mematikan roda ekonomi warga. Hasil panen bawang merah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi keluarga serta menegaskan potensi NTT sebagai lumbung bawang merah masa depan di kawasan timur Indonesia.






