JAKARTA, KBKNEWS.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dan wilayah sekitarnya pada Selasa (1/9/2026).
Gempa tersebut dipicu aktivitas Sesar Cisokan yang merupakan bagian dari sistem Sesar Cimandiri.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan gempa terjadi pada pukul 17.53 WIB. Menurutnya, sumber gempa berada di ujung barat Segmen Sesar Cisokan.
“Sesar Cisokan dulu bernama Segmen Rajamandala dan merupakan bagian dari Sesar Cimandiri,” kata Daryono.
Sesar Cimandiri merupakan salah satu sistem sesar aktif yang berada di Jawa Barat dan memiliki potensi memengaruhi aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Perekayasa Ahli Utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Putri Natari Ratna, menjelaskan penelitian mengenai Sesar Cimandiri telah dilakukan sejak lama. Namun, sejumlah aspek terkait karakteristik dan pergerakannya masih terus dikaji.
Berdasarkan penelitian BRIN, Sesar Cimandiri membentang sekitar 100 kilometer, mulai dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.
Kajian Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada 2017 menyebut Sesar Cimandiri merupakan sesar tua yang terbentuk pada masa Akhir Eosen Tengah. Aktivitas sesar tersebut kemudian berperan dalam pembentukan bentang alam purba di wilayah antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri.
Sesar Cimandiri memiliki dua karakter utama, yakni sesar naik yang ditandai deformasi dan lipatan batuan serta sesar normal yang ditandai terbentuknya gawir sesar dengan kemiringan cukup curam.
Sementara itu, penelitian Universitas Gadjah Mada pada 2018 menyebut Sesar Cimandiri merupakan sesar aktif dengan orientasi timur laut–barat daya.
Sesar tersebut terdiri atas sejumlah segmen, mulai dari Pelabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang, Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pangleseran, Pangleseran-Cibeber, hingga beberapa segmen yang membentang dari Cibeber menuju Padalarang.
Aktivitas Sesar Cimandiri juga dikaitkan dengan sejumlah gempa yang pernah terjadi di Jawa Barat. Di antaranya Gempa Pelabuhan Ratu pada 1900, Padalarang pada 1910, Conggeang pada 1948, Tanjungsari pada 1972, Cibadak pada 1973, Gandasoli pada 1982, dan Sukabumi pada 2001.
Keberadaan Sesar Cimandiri di sejumlah wilayah dapat dikenali melalui bentang alam, termasuk lembah sungai yang memiliki arah hampir timur-barat dan kemudian berbelok ke arah timur laut dari kawasan Cibeber menuju bagian timur.
Gempa M4,3 yang mengguncang Cianjur menunjukkan aktivitas sesar aktif di Jawa Barat masih menjadi salah satu faktor penting yang perlu dipantau. Penelitian dan pemantauan aktivitas Sesar Cimandiri terus diperlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap potensi kegempaan di wilayah tersebut.





