JAKARTA, KBKNEWS.id — Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pernah menghantam kehidupan Sarju (55), peternak sapi perah asal Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Delapan sapi miliknya mati akibat wabah tersebut, menyisakan satu ekor sapi yang akhirnya juga harus dijual karena kondisinya memburuk.
Sarju telah menggeluti peternakan sapi perah sejak 2008. Sebelumnya, ia memelihara sapi potong. Pengalamannya bekerja di Jakarta dan Bandung, ditambah cerita tentang keberhasilan peternak di Lembang dan Malang, mendorongnya mencoba usaha sapi perah yang mampu menghasilkan pemasukan dari penjualan susu.
Namun, PMK membuat usaha yang dirintisnya bertahun-tahun runtuh. Hampir satu tahun Sarju kehilangan sumber penghasilan setelah tidak lagi memiliki sapi perah.
“Sapi saya delapan, tinggal satu. Itu sebenarnya masih hidup, cuma sudah parah. Akhirnya saya jual Rp3,5 juta. Modalnya sudah habis,” kenang Sarju.
Harapan Sarju kembali muncul melalui program pemberdayaan Dompet Dhuafa di Kampung Susu Lawu (KSL), Singolangu. Program yang dijalankan bersama ROIS OJK dan mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Magetan itu mengintegrasikan sektor peternakan, agrowisata, dan UMKM.
Sarju menjadi salah satu peternak yang menerima bantuan sapi. Bantuan tersebut membantunya kembali menambah ternak dan melanjutkan usaha yang menjadi tumpuan ekonomi keluarganya.
“Kalau tidak ada bantuan dan dukungan ini, saya mungkin secara pribadi tidak bisa menambah sapi sampai sekarang,” ujarnya.
Kini, Sarju kembali menjalani rutinitas di kandang sejak pagi hari. Ia membersihkan kandang, memandikan sapi, menyiapkan pakan, hingga melakukan pemerahan susu yang kemudian disetorkan ke koperasi. Perawatan kembali dilakukan pada sore hari.
Menurut Sarju, perhatian terhadap pakan, kesehatan ternak, dan kebersihan menjadi kunci menjaga produktivitas sapi serta kualitas susu. Baginya, kembalinya sapi di kandang bukan sekadar bertambahnya aset, melainkan kembalinya harapan dan roda ekonomi keluarga yang sempat terhenti akibat PMK.
Melalui pengembangan Kampung Susu Lawu, Sarju berharap manfaat program juga terus meluas, mulai dari peternak, pelaku UMKM pengolahan susu, hingga sektor wisata dan masyarakat sekitar.




