JAKARTA – (KBKNEWS) – 19/9 – AMERIKA Serikat (AS) dan China hampir terjrumus dalam perang terbuka pada awal tahun ini setelah pasukan AS nyaris mencegat dan menggeledah kapal berbendera China di kawasan Timur Tengah .
Hal itu seperti dilaporkan Reeuters (199) terjadi akibat keleliruan laporan intelijen yang disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Laporan intelijen AS semula mengindikasikan bahwa kapal tersebut mengangkut komponen yang berkaitan dengan senjata nuklir sehingga informasi itu memicu pengerahan pasukan AS untuk bersiap melakukan pencegatan di laut.
Namun, operasi militer tersebut dibatalkan di menit-menit terakhir setelah para pejabat menemukan bahwa chatbot AI yang digunakan oleh seorang analis telah salah mengidentifikasi jenis muatan kapal.
Satu dari empat sumber anonim yang mengetahui insiden itu mengonfirmasi, laporan intelijen tersebut tidak berdasar.
Akan tetapi, dampaknya sangat fatal terhadap hubungan kedua negara, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (18/9).
Salah satu sumber menuturkan bahwa insiden tersebut hampir saja memicu perang. Hingga saat ini, belum diketahui muatan sebenarnya dari kapal tersebut maupun pelabuhan tujuannya. Komando Sentral AS atau Central Command (Centcom) juga tidak segera merespons permintaan konfirmasi mengenai insiden ini.
Insiden kapal yang nyaris menyulut perang ini mencuat di tengah meningkatnya kekhawatiran atas bahaya teknologi AI.
Awal bulan ini, seorang peneliti di perusahaan AI terkemuka, Anthropic, bahkan memilih mengundurkan diri karena khawatir teknologi tersebut dapat lepas dari kendali manusia.
Karyawan Anthropic lainnya yang tidak mengundurkan diri, turut menyatakan kekhawatiran senada secara terbuka.
“Kami benar-benar percaya secara sungguh-sungguh bahwa AI dapat membunuh seluruh umat manusia,” ujar karyawan tersebut.
Dia memperkirakan peluang terjadinya hal itu berada di angka lebih dari 10 persen dalam dekade mendatang.
Kendati insiden serius telah terjadi dan peringatan bahaya terus disuarakan, Presiden AS Donald Trump beserta sejumlah sekutu utamanya tetap menyatakan penolakan terhadap langkah-langkah pembatasan pengembangan AI secara drastis.





