Arab Saudi Ingatkan Ancaman Serangan Houthi ke Mekkah

MIilisi Houthi pekan ini menhujani kota-kota di Arab Saudi seperti Khamis Mushart, Abha, Yazan dan Najran dengan rudal-rudal balistik dan drone-drone serang (foto:AFP)

JAKARTA – (BKNEWS) – 16/9 – ARAB Saudi mengeluarkan peringatan singkat mengenai kemungkinan serangan milisi Houthi prolksi atau binaan Iran ke Kota Suci Mekkah, Jeddah, dan Taif, Selasa (15/9).

Sebelumnya kota Khamis Mushart terutama sekitar pangkalan udara King Khalid, Abha di wilayah selatan, Yazan dan Nazran menjadi bulan-bulanan serangan rudal balistik an drone serang milii Houthi.

Peringatan ini muncul setelah Arab Saudi berulang kali menjadi sasaran serangan Houthi yang didukung Iran dalam beberapa hari terakhir.

AFP mengitip keteragan Dinas Pertahanan Sipil setempat melaporkan (16/9), alarm serangan ini termasuk peringatan pertama yang dikeluarkan di Mekkah sejak perang Timur Tengah dimulai, namun, peringatan itu dengan cepat dicabut.

Peringatan itu dikeluarkan sehari setelah serangkaian serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak yang diluncurkan dari Yaman yang melukai 13 orang di selatan Arab Saudi.

Arab Saudi berada dalam posisi paling terdesak sejak meletusnya perang terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Mereka kini memiliki opsi yang kian terbatas usai mendapat penolakan langsung dari Presiden AS Donald Trump terkait permintaan bantuan militer menghadapi milisi Houthi.

Kondisi ini diperparah oleh pembatalan mendadak agenda pertemuan diplomatik Teluk-Iran pada Minggu (13/9) malam akibat tajamnya perbedaan posisi antarpihak.

Dikepung dari tiga penjuru

Negara pengekspor minyak utama dunia tersebut kini dikepung ancaman dari tiga penjuru, yaitu serangan kapal tanker di Selat Hormuz, penutupan pipa minyak ke Laut Merah, serta penguasaan rute maritim vital oleh Houthi.

“Saat ini Arab Saudi benar-benar frustrasi. Dalam beberapa hal, ini adalah skenario terburuk mereka,” kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, dikutip dari New York Times, Senin (14/9).

Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah menginvestasikan modal politik dan finansial luar biasa besar selama bertahun-tahun untuk membangun kedekatan pribadi dengan Donald Trump.

Namun, saat MBS dua kali memohon agar Washington menggelar operasi militer balasan terhadap Houthi, Trump memilih bergeming demi menghindari pembukaan front pertempuran baru di saat armada dan amunisi AS mulai terkuras.

Trump mengeklaim, milisi Houthi telah menghubungi AS dan menyatakan tidak ingin berkonfrontasi dengan Washington.

Klaim ini langsung dibantah oleh pejabat politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti.  “Kami tidak berkomunikasi dengan Trump dan kami juga tidak meminta dia untuk tidak menyerang kami,” ujarnya.

Hadapi Houthi sendiri

Dilema ini membuat Riyadh enggan menghadapi Houthi sendirian, mengingat trauma kampanye militer 2015 yang terseret ke dalam pusaran perang berkepanjangan selama sembilan tahun.

“Alasan negara seperti Arab Saudi berinvestasi besar-besaran dalam mengembangkan kemitraan keamanan dengan AS adalah untuk mengantisipasi kemungkinan seperti ini,” jelas Ratney.

Posisi Arab Saudi memang terjepit di satu pihak ia menjalin kemitraan erat dengan perusahaan-perusahaan AS untuk mengeksploitasi sumberdaya minyaknya dan juga dengan pemerintah Paman Sam itu untuk memasok alutsista canggih agar mampu mempertahanan diri.

Di tengah konflik antara Israel dan negara-negara Arab, Saudi juga dalam dilema, di satu sisi diam-diam menjalin kejasama dangan Israel, di sisi lain mendukung kemerdekaan Palestina.

Sementara dengan Iran, Arab Saudi memperebutkan hegemoni pengaruh di kawasan itu.

Sedangkan dengan Houthi, Arab Saudi masuk ke dalam konflik setelah rezim Yaman di bawah Presiden Abdurabuh Mansour Hadi yang digulingkan oleh Houthi pada 2024 minta suaka ke Saudi. Pihak Saudi berkoalisi dengan pasukan Hadi pada 2025 untuk merebut kembali  ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi.(AFP/NYT/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here