Punya Kapal Induk Buat Apa?

Kapal bekas hibah dari pemrintah Italia ITS Giuseppe Garibaldi resmi diserahterimakan kepada TNI-AL di dermaga Tg. Priok, Jakarta (24/9) berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 . (foto: Gurindami.d)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 27/9 – KAPAL induk ITS Giuseppe Garibaldi hibah dari pemerintah Italia resmi jadi milik TNI-AL, dikukuhkan menjadi KRI Sriwijaya dalam upacara serah terima di dermaga Tg. Priok, Jakarta, Kamis (24/9).

Walau namanya hibah, tidak semua gratis. Persiapan teknis, pelatihan 100 ABK di Italia, logistik awal, suku cadang dan pelayaran dari pelabuhan Taranto, Italia sampai Tg Priok, Jakarta (sekitar 6.870 mil laut) biayanya disebut-sebut  54,02 juta Euro (sekitar Rp1,1 triliun).

Biaya berlayar Taranto – Tg. Priok:

Pelayaran ITS Garibaldi dari Italia ke Indonesia selama 26 hari (24 Agustus – 18 Sept.) diperkirakan  membutuhkan konsumsi BBM sekitar Rp95,8 juta per jam dan biaya operasional harian Rp2,5 milyar hingga   R p3,5 milyar.

Rinciannya: BBM (jenis MGO sekitar 750 dolar AS per ton),  35 ton per hari, total 26 hari  682.500 dolar AS, biaya tol  Terusan Suez 400.000 dolar AS, uang saku 600 ABK (30 dolar AS/hari), total 468.000 dolar AS, logistik 30 dolar AS x 600 x 26 = 234 .000 dolar AS, sandar di pelabuhan Jeddah dan Colombo 100.000 dolar AS, biaya kapal tunda 50.000 dolar AS, total 1.934.500 dolar AS (Rp 34,3 milyar).

Biaya di atas tak termasuk  premi asuransi, pengawalan oleh dua fregat AL Italia sampai menjelang masuk perairan RI, dan overhead untuk awak Italia yang ikut.

Kehadiran KRI Sriwijaya menaikkan kelas TNI-AL dari  “Green Water Navy” dengan  kemampuan  operasi terbatas di perairan Nusantara dan ZEE ke  “Light Blue Water Navy” berjangkauan sampai 3.000 mil.

Masih jauh untuk melangkah ke level “full Blue Water  Navy”, mengingat Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group – CSG) lazimnya didukung kapal selam, fregat, destroyer, kapal tanker dan sistem senjata serta skadron udara yang diangkutnya.

TNI-AL kini sudah memiliki 10 fregat, empat kapal selam yang sebagian mungkin bisa ditarik ke CSG KRI Sriwijaya, kecuali destroyer (perusak) yang harus dibeli dan kapal tanker berukuran besar.

Harga dan biaya operasi kapal induk menguras kocek negara. Kapal  kelas Nimitz Amerika Serikat berbobot 100.000 ton, harganya Rp200 – Rp230 triliun, dan biaya  pengoperasiannya dilaporkan antara Rp2,3 dan  Rp3 triliun per tahun, belum lagi perawatannya dan kapal-kapal pendukungnya.

KRI Sriwijaya yang berbobot 14.150 ton, biaya operasi per tahunnya diperkirakan sekitar Rp90 milyar jika dioperasikan 30 hari, Rp180 milyar untuk 60 hari dan Rp270 milyar untuk  90 hari. Bahkan ada yang menghitung, biayanya bisa di atas Rp1 triliun per tahun.

Kapal induk bisa dianggap  sebagai simbul supremasi

kekuatan matra laut yang memimpin Gugus Tempur (CSG), dijadikan “Flagship” (kapal bendera, komando tempur) atau menjadi deterrent (penggentar) lawan.

Namun bagi TNI-AL, seperti yang dinyatakan oleh para petinggi Kemenhan dan TNI di berbagai kesempatan, KRI Sriwijaya akan difokuskan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti tugas-tugas kemanusiaan dan bantuan kebencanaan.

Jadi KRI Sriwijaya yang merupakan kapal induk pertama TNI-AL, dari sisi peran tempur agaknya bisa dijuluki “macan ompong” di balik bobotnya yang besar (14.150 ton) karena “taring-taringnya  sudah dicopoti.

Pertanyaannya, apakah KRI Sriwijaya cocok digunakan untuk OMSP di perairan sempit dan sebagian dangkal di Indonesia? Belum lagi, tingginya biaya operasional  apa nggak mubazir atau mahal “di ongkos”?

Dari perjalanan sejarah, di Indonesia rasanya belum pernah terjadi peristiwa atau bencana yang memerlukan evakuasi penduduk antarpulau dalam jumlah besar.

Jika peristiwa itu pun terjadi, ada kapal-kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) berbobot 7.300 ton yang diproduksi oleh PT PAL dan sudah beberapa buah dioperasikan oleh TNI-AL, bahkan diekspor ke Filipina.

Pengalaman miris kepemilikan kapal induk dialami oleh Thailand yang membeli HTMS Chakri Naruebet dari  Spanyol pada 1992, lalu dioperasikan pada 1997. Kapal ini berbobot 11.486 ton, panjang 182,6 m, lebar 22,5 m, mampu mengangkut 10 pesawat VTOL atau 20-an heli.

Semula kapal ini dibeli untuk mengangkut pesawat VTOL AV-8S Matador dan heli patroli maritim, namun tingginya biaya operasi, membuatnya lebih banyak sandar di pangkalan, dan dialihfungsikan untuk tugas penanganan  bencana, lalu dijadikan obyek wisata atau kapal pesiar kerajaan, dijuluki “Thai-tanic”.

 Spesifikasi ITS  Giuseppe Garibaldi

Dibuat oleh Fincantieri, Monafalcone Shipyard, Monafalcone (Gorizia), Italia, diluncurkan  11 juni 1983, mulai berlayar 30 Sept. 1985 dan dipensiunkan dari AL Italia pada 1 Oktober 2024.

Berbobot mati 14.150 ton, panjang 180,2 m, lebar 33,4 m, kapal digerakkan oleh empat turbin gas (Combined Gas and Gas  –  COGAG) buatan Fiat, dibangun di bawah lisensi GE, menghasilkan daya 81,000 HP (60 MW).

Selain itu ada enam generator diesel Grand Motor Trieste B230/13 untuk memasok kebutuhan listrik dan navigasi.

Kapal berkecepatan maks. 30 knot (56 km/h; 35 mph), berjangkauan 7.000 mil laut (13 ribu km) pada kecepatan  20 knot (37 km/h; 23 mph).  ABK 830 orang, termasuk 550 awak kapal, 180 awak penerbangan dan 100 perwira.

Sistem sensor a.l. berbagai radar: a.l radar jarak jauh, peringatan dini,  pelacak obyek di permukaan, navigasi  dan pemandu peluncuran rudal dan kanon.

Perangkat tempur                                                                                                      ITS Garibaldi dilengkapi radar, sistem  pengecoh sasaran lawan ( Sistema di Contromisure a Lancio di Razi – SCLAR), pelontar umpan (flare atau  suar), anti-torpedo, sonar  serta  penangkal elektronik (ECM).

Ada dua peluncur octopel (8 sel) Mk29 untuk rudal Sea Sparrow/Selenia Aspide,  dua tabung torpedo 324 mm, dan empat rudal SSM (antikapal) Otomat Mk2 di buritan serta kanon 40 mm untuk Closed-in Weapon System (CIWS) atau sistem pertahanan jarak dekat.

Dek aviasi berdesain “off-axis” dengan lompatan ski 6,5 derajat untuk pesawat S-VTOL (Short/Vertical  Take Off and Landing) panjangnya 174 m, lebar 30 m.

Kapasitas angkut 16 unit pesawat S-VTOL (landasan pendek/ vertikal terbang dan mendarat AV-8B Harrier II buatan Inggris, helikopter AW101 atau Bell 205.

Sesuai kesepakatan dengan pihak Italia, dan Indonesia juga memprioritaskan  KRI Sriwijaya untuk Operasi Militer Selain  Perang (OMSP), seluruh perangkat tempur seperti radar/sonar untuk keperluan militer dan sistem senjata (rudal, kanon, torpedo) dilepas.

Sebagai gantinya, TNI-AL antara lain akan menempatkan 14 helikopter (pengadaan baru atau yang sudah ada) dan 60 unit drone serang Bayraktar TB-3 buatan Turki.

TNI AL pernah mengoperasikan kapal penjelajah ringan kelas Sverdlov KRI Irian dari Uni Soviet pada 1962, berbobot 13.640  ton, hampir sama dengan ITS Garibaldi (14.150 ton), lebih panjang (220 meter), dibanding 182 meter, kecuali lebarnya lebih pendek 22 meter dibanding 30 meter.

Akibat cekaknya anggaran perawatan dan rendahnya kompetensi ABK yang mengawakinya, bekas kapal kebanggaan armada L. Baltik Uni Soviet bernama Ordonikdze itu ditarik kembali ke Vladivostok untuk dioverhaul dua tahun kemudian (Maret 1964), lalu dikembalikan lagi ke Indonesia pada Agustus 1964.

Di tengah himpitan ekonomi pasca tragedi G30S, 1965, minimnya anggaran perawatan,  dan embargo suku cadang oleh Soviet, KRI Irian mangkrak, bahkan jadi ruang tahanan G30S, lalu tak diketahui rimbanya. Dijual sebagai besi tua ke negara lain, atau ditarik kembali oleh Soviet?

Lebih Membutuhkan KPC

Mantan KaBAIS Laksda TNI (Purn.) Soleman Ponto yang pernah menjadi Kepala Kamar Mesin kapal-kapal TNI-AL  berpendapat, Kapal Patroli Cepat seperti FPB-57 buatan PT PAL  lebih diperlukan untuk menjaga kedulatan NKRI.

Selain biaya operasi dan perawatan yang tinggi (bisa sampai Rp2 triliun setahun, tergantung lama operasi),  menurut Ponto, kapal induk tidak efektif di perairan dangkal dan sempit,  sementara fasilitas pengisian bahan bakar/logistik  belum mendukungnya.

Sistem propulsi COGAG KRI Sriwijaya juga masih asing bagi ABK TNI-AL, dan berbagai perangkat elektronika yang rumit dan serba hi-tech, perlu waktu, ketekunan, disiplin serta program pelatihan rutin untuk menguasainya.  Tingginya biaya pengoperasian, perawatan, konsumsi BBM dan sistem pendukung kapal induk juga dikhawatirkan bakal membebani anggaran negara.

Ponto mencemaskan, jangan-jangan  KRI Sriwijaya bakal lebih banyak diparkir ketimbang dioperasikan misalnya di sekitar L. Natuna sebagai deterrent menghadapi potensi ancaman di Laut China Selatan, mengemban misi-misi kemanusiaan atau OMSP.

Last but not least, dituntut disiplin dalam perawatan dan penggunaan anggaran sesuai manual pengoperasiannya, jika tidak, peralatan canggih yang dipasang bisa sia-sia.

Jangan sampai, KRI Sriwijaya mengalami nasib setragis KRI Irian. (nanang sunarto/Indomiliter/Laksda TNI Pur. Soleman Ponto/berbagai sumber).

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here