
JAKARTA – (KBKNEWS) – 8/10 – KEMATIAN seorang pekerja lab penelitian penyakit pes di Irkutsk, Siberia, Rusia Selatan, menjadi perhatian internasional setelah muncul dugaan, perempuan berusia 28 tahun itu tertular penyakit dari tabung reaksi yang pecah.
Namun, seperti diberitkan AFP (8/10), otoritas kesehatan Rusia memastikan tidak ada risiko epidemi setelah melakukan serangkaian observasi terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan korban serta laboratorium tempatnya bekerja.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, pada Rabu (7/10) menyatakan bahwa situasi kesehatan masyarakat di wilayah Irkutsk, Siberia, tetap terkendali.
“Situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk dalam keadaan tenang,” demikian pernyataan Rospotrebnadzor, sebagaimana dilansir AFP.
Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa “tidak ada risiko epidemi bagi masyarakat”.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya permintaan transparansi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa terkait kematian pekerja laboratorium tersebut.
Kasus ini pertama kali menjadi sorotan setelah media Rusia, People of Baikal, melaporkan kematian seorang perempuan berusia 28 tahun pada Jumat (2/10). Perempuan tersebut bekerja di sebuah lembaga penelitian penyakit pes di wilayah Irkutsk, Siberia.
Menurut laporan media itu, korban diduga meninggal akibat penyakit pes yang kemungkinan tertular melalui tabung reaksi yang pecah saat bekerja di laboratorium.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan Rusia. Pemerintah Rusia memberikan keterangan berbeda mengenai penyebab kematian perempuan tersebut.
Otoritas setempat menyatakan bahwa pekerja laboratorium itu meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru, dengan penyebab yang belum dapat dipastikan.
Dengan demikian, dugaan bahwa perempuan tersebut meninggal akibat infeksi pes belum dinyatakan sebagai kesimpulan resmi.
Perbedaan antara laporan media dan keterangan pemerintah itu turut menjadi perhatian dalam penanganan kasus tersebut. Terlebih, korban bekerja di lembaga penelitian yang menangani mikroorganisme penyebab penyakit berbahaya.
5.000 Tes Lab
Rospotrebnadzor menyatakan telah melakukan penyelidikan secara intensif setelah kematian pekerja laboratorium tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, lembaga itu mengaku tidak menemukan kejadian darurat yang berkaitan dengan aktivitas laboratorium.
Rospotrebnadzor juga memastikan bahwa laboratorium tempat korban bekerja telah menjalankan prosedur pengawasan yang sesuai dalam menangani mikroorganisme penyebab penyakit.
Selain memeriksa fasilitas penelitian, otoritas kesehatan Rusia melakukan pemantauan medis terhadap orang-orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan korban.
Menurut Rospotrebnadzor, lebih dari 90 persen orang yang masuk dalam kelompok pemantauan telah menyelesaikan pemeriksaan kesehatan mereka.
“Tidak ditemukan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular,” kata lembaga tersebut.
Rospotrebnadzor juga mengungkapkan bahwa hampir 5.000 pemeriksaan laboratorium telah dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan mikroorganisme berbahaya.
“Hasil dari hampir 5.000 tes laboratorium tidak menunjukkan adanya mikroorganisme patogen berbahaya,” lanjutnya.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi otoritas Rusia untuk menyatakan bahwa situasi kesehatan masyarakat di Irkutsk tidak menunjukkan adanya risiko epidemi.
Rospotrebnadzor turut mengungkapkan bahwa perempuan yang meninggal tersebut sebelumnya telah menerima vaksinasi.
Menurut lembaga itu, korban juga memiliki kekebalan terhadap sejumlah infeksi berbahaya yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Keterangan mengenai riwayat vaksinasi itu disampaikan sebagai bagian dari penjelasan otoritas kesehatan Rusia mengenai kondisi pekerja laboratorium sebelum meninggal.
Rusia ambil langkah preventif
Meski menyatakan tidak ada risiko epidemi, otoritas kesehatan Rusia tetap menerapkan sejumlah langkah pencegahan untuk mengantisipasi kemungkinan penularan penyakit.
Rospotrebnadzor menjelaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti ketentuan sanitasi yang berlaku di negara itu.
Langkah pencegahan tersebut dijalankan bersamaan dengan penyelidikan dan pemantauan kesehatan terhadap orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan korban.
Pihak berwenang juga menegaskan bahwa hasil penyelidikan sejauh ini tidak menunjukkan adanya kondisi darurat di laboratorium penelitian tersebut.
Di tengah perhatian internasional terhadap kasus ini, Rusia menyatakan telah menyampaikan informasi terkait situasi di Irkutsk kepada WHO. Menurut Rospotrebnadzor, penyampaian informasi dilakukan sesuai dengan peraturan kesehatan internasional.
Sementara itu, WHO, AS, dan Uni Eropa telah meminta Rusia memberikan informasi yang lebih transparan mengenai kematian pekerja laboratorium tersebut.
Permintaan itu muncul ketika penyebab kematian korban masih menjadi perhatian dan terdapat perbedaan keterangan antara laporan media dengan otoritas setempat.
Hingga pernyataan Rospotrebnadzor pada Rabu (7/10), pemerintah Rusia tetap menyatakan tidak menemukan risiko epidemi bagi masyarakat berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. (AFP/kompas.com/ns)




