JAKARTA, KBKNEWS.id — Tunggakan biaya sekolah sempat menghambat langkah Agisna Putri Sanjaya (17) untuk menyelesaikan pendidikan.
Siswi kelas 12 jurusan Akuntansi di sebuah SMK swasta di Ciomas, Kabupaten Bogor, itu belum bisa mengambil ijazah SMP karena terkendala biaya.
Melalui Program Tebus Ijazah, Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa hadir membantu membuka kembali jalan menuju masa depannya.
Kesulitan ekonomi keluarga Agis bermula saat pandemi Covid-19 pada 2020. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh pabrik terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kemudian jatuh sakit dan tidak lagi mampu bekerja. Sejak itu, ibunya, Eti Resmiati Ningrum (52), menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).
Dua kakak laki-laki Agis turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ijazah SMK kakak keduanya juga masih tertahan karena tunggakan biaya pendidikan.
Di tengah keterbatasan, Agis tetap berusaha mempertahankan prestasi akademiknya. Ia konsisten masuk 10 besar dengan nilai rata-rata 80–90. Meski bercita-cita menjadi psikolog, Agis memilih jurusan Akuntansi agar dapat segera bekerja setelah lulus dan membantu keluarganya.
“Bagi aku, ijazah itu penting,” ujar Agis, yang sempat terpikir berhenti sekolah karena kesulitan biaya.
Tim LPM Dompet Dhuafa kemudian melakukan verifikasi dan asesmen langsung ke rumah Agis di Ciomas. Tim Program LPM Dompet Dhuafa, Sudita, mengatakan bantuan diberikan untuk menjaga kesempatan anak berprestasi agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Bantuan ini bukan sekadar masalah kendala ekonomi, melainkan tentang menjaga harapan seorang anak berprestasi agar tidak terputus,” jelas Sudita.
Program Tebus Ijazah menggunakan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk membantu keluarga dhuafa yang menghadapi hambatan biaya pendidikan.
Dengan bantuan tersebut, Agis dapat kembali menatap masa depan dan mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan SMK pada 2027. Ia berharap bisa mandiri, bekerja, dan suatu hari mewujudkan cita-citanya menjadi psikolog.





