JAKARTA, KBKNews.id — Pemandangan tak biasa tersaji di jantung ibu kota pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026). Puluhan angkutan kota (angkot) merah khas Depok beriringan membelah jalanan protokol Jakarta dan menembus kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Bukan kemacetan biasa, armada angkot itu mengantar gelombang massa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang hendak menyuarakan aspirasinya.
Rombongan berangkat dari titik kumpul di Lapangan FISIP UI, Depok, tempat massa mulai berkumpul sejak pukul 09.00 WIB, Rabu (28/10/2026). Di halaman lapangan telah berjejer sekitar 40 unit angkot dan 12 bus yang disiapkan untuk mengangkut massa. Angkot-angkot merah yang ambil bagian berasal dari sejumlah trayek, termasuk trayek legendaris T19 jurusan Terminal Depok–Kampung Rambutan, serta D37, D05, hingga M06. Para mahasiswa berangkat mengenakan pakaian bebas, tanpa jas almamater.
Strategi yang dipakai terbilang cerdik dan tidak terduga. Untuk menghindari barikade dan penjagaan ketat aparat keamanan, puluhan angkot merah itu tetap menyalakan lampu trayeknya, seolah-olah sedang menarik penumpang umum seperti biasa. Penyamaran itu sukses besar, armada angkot berhasil lolos dari penyekatan petugas dan melenggang masuk menembus jantung kawasan Bundaran HI tanpa hambatan berarti.
Meski begitu, perjalanan tidak sepenuhnya mulus. Sebagian rombongan dihadang barikade polisi di sekitar kawasan Grand Indonesia sehingga angkot tidak dapat melanjutkan perjalanan, massa pun turun dan berjalan kaki, berpencar melalui jalur pedestrian hingga akhirnya menembus titik aksi.
Massa mulai memadati Bundaran HI sekitar pukul 15.00 WIB, bergabung dengan mahasiswa dari berbagai kampus — antara lain ITB, Universitas Padjadjaran, Undip, UGM, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga — serta elemen masyarakat sipil seperti buruh dan petani. Di sekitar kolam Patung Selamat Datang, massa mengacungkan tiga jari, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, dan membentangkan spanduk berisi pesan protes. Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI memperkirakan total massa yang terkumpul mencapai 10.000–12.000 orang.
Dalam aksi yang digerakkan Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) bersama BEM UI itu, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah. Pertama, menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis ekologis di sejumlah wilayah sebagai bencana nasional. Kedua, mengarahkan APBN untuk kepentingan rakyat dan menghentikan pemborosan anggaran pada program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa. Ketiga, menurunkan biaya pendidikan. Keempat, menghentikan penyalahgunaan kekuasaan serta memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kelima, mengembalikan kebebasan bersuara dan menghentikan militerisasi di ruang sipil.
Yang membuat aksi ini menyita perhatian publik adalah solidaritas para sopir angkutan umum. Para sopir angkot itu dengan penuh semangat mengangkut gelombang massa mahasiswa yang ingin menuntut ketegasan pemerintah, salah satunya terkait penanganan bencana nasional karhutla. Aksi 28 Oktober ini merupakan kelanjutan demonstrasi 20 Oktober 2026 yang mengevaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan aksi serupa juga digelar di sejumlah kota lain, seperti Yogyakarta dan Makassar.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian. Kapolri sebelumnya mengimbau massa agar bertindak damai dan menginstruksikan penggunaan kamera tubuh (body camera) bagi petugas yang mengamankan demonstrasi, sementara rekayasa lalu lintas diberlakukan di sejumlah ruas jalan sekitar lokasi. Di tengah kegiatan, polisi juga memeriksa tiga pria di depan Pos Polisi Thamrin dan menyita sejumlah alat mekanik serta petasan. Momen unik nan epik “invasi” angkot merah Depok ke pusat Jakarta itu pun langsung viral, memicu berbagai reaksi sekaligus kagum dari warganet atas aksi solidaritas antara sopir angkutan umum dan mahasiswa yang dinilai sangat solid dan penuh totalitas.





