JAKARTA, KBK – Hidup ditengah keterbatasan ekonomi membuat Kakek Umar harus jeli mengupayakan cara untuk menghasilkan rupiah. Apalagi jika hidup ditanah rantau yang membutuhkan biaya hidup tak sedikit.
Sebelum sang fajar menyinari kontrakan Kakek Umar di bilangan Depok, Jawa Barat yang besarnya tak seluas kulit kerbau, Kakek Umar sudah lebih dulu merapihkan diri untuk memulai mengawali hari dengan melangkahkan kaki menuju Stasiun Citayam bersama gembolan tas kain berisi puluhan poci dagangannya.
Kendati mentari belum menampakan wujudnya di langit timur namun suasana Stasiun Citayam sudah terlihat riuh, padat dengan jejeran calon penumpang yang berdiri diperon menunggu kedatangan si ular besi.
Demi menjemput rezeki di Ibu Kota Kakek Umar rela harus berdesakan di dalam Comuterline yang mengantarkannya ke Stasiun Duren Kalibata tempat dirinya mengadu nasib.
Menjelang pukul delapan pagi Kakek berusia 78 tahun itu siap menggelar dagangannya di atas trotoar pintu masuk Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Poci yang dijual Kakek Umar pun bukan milik pribadi melainkan mengambil dari bosnya yang juga tinggal dalam satu kontrakan di Citayam.
Hal tersebut membuat Kakek Umar harus membagi hasil keuntungan yang tak seberapa. Meski tak terlihat muda lagi ia masih terlhat gagah dan penuh senyum bersahaja. Sudah 4 tahun Kakek Umar berprofesi sebagai penjual poci guna menghidupi keluarganya. Sebelumnya Kakek Umar hidup di kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah sebagai buruh tani.
Dengan menggunakan terpal seadanya Kakek Umar menjajakan dua jenis poci yang dibedakan berdasarkan ukuran saja. Untuk poci ukuran kecil dijual dengan harga Rp 45 ribu dan Rp 75 ribu untuk ukuran besar. Penghasilan perharinya tidak menentu, karena pocinya kadang habis diserbu pembeli namun tak jarang juga tidak ada yang laku terjual meski satu buah pun.
Rupiah yang didapatkan Kakek Umar pun harus disetor ke bos. Sayangnya Kakek Umar sendiri tidak tahu berapa komisi atas tiap poci yang ia jual, yang ia pahami setiap bulan hanya menerima uang sebesar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta dari bosnya.
“Saya tidak mau mengemis karena saya masih kuat, kalau ngemis malu dan kita hidup untuk bekerja bukan untuk meminta-minta,” ucap Kakek 9 anak 23 cucu tersebut.
Jumlah tersebut tentu dirasa Kakek Umar masih jauh dari cukup karena ia juga harus memberikan separuh penghasiannya kepada istri di Tegal. Pada 2 September lalu Kakek Umar mendapatkan perhatian komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta (KNJ).
“Donasi yang diterima Kakek Umar sebesar Rp 3.050.000 rencananya akan digunakan untuk membeli poci bosya secara pribadi dan diberikan kepada istri tercinta di kampung,” kata Anggi Ika Satri salah seorang anggota komunitas KNJ seperti yang tertaut di akun Facebooknya.





