JAKARTA – Puluhan ribu orang di Korea Utara (Korut) mengungsi akibat banjir yang menerjang negri komunis itu akibat hujan yang mengguyur selama 4 hari hingga minggu (11/9), kini Korut tengah menghadapi ancaman bencana kemanusiaan.
PBB dan Palang Merah Internasional mengatakan pemerintah Korea Utara melaporkan sedikitnya 133 orang tewas dan 400 orang lainnya masih hilang, sementara rumah-rumah dan tanaman pangan hancur.
Seperti dilansir BBC Indonesia (13/9) atas kejadian tersebut PBB telah mengalokasikan dana senilai $8juta (Rp100 miliar) tahun ini untuk bantuan kemanusiaan bagi negara yang dikucilkan masyarakat dunia itu.
Banjir yang dipicu oleh Topan Lionrock baru-baru ini, terjadi saat Korea Utara menghadapi kemarahan global sesudah melakukan uji coba nuklir mereka yang kelima.
Menurut pantauan PBB banjir terburuk terjadi disepanjang sungai Tumen, yang berbatasan dengan Tiongkok Selatan. Banyak desa di Musan dan Yonsa yang terisolasi sehingga memutus akses ke dunia luar.
Chris Staines, yang memimpin delegasi Palang Merah di Korea Utara, mengatakan, kawasan itu menghadapi “suatu bencana yang sangat besar dan pelik.”
“Banjir datang dengan kekuatan begitu rupa, menghancurkan segala sesuatu yang dilintasinya,” katanya.
Di beberapa desa dekat kota Hoeryong, “nyaris tak ada bangunan yang tak rusak.”
“Korban banjir di pengungsian, sekarang ini dalam situasi yang sangat sulit dan menghadapi risiko nyata diserang bencana sekunder, terutama yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat,” tambahnya.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan setidaknya 140.000 orang membutuhkan bantuan segera.
Murat Sahin, seorang pejabat PBB di Korea Utara, mengatakan skala bencana itu melampaui apa pun yang dialami oleh para pejabat setempat. Media pemerintah Korea Utara mengatakan rakyat mengalami ‘penderitaan berat’ di wilayah tersebut.





