Memuliakan Mereka yang Menolak Mengemis

foto dok KNJ

JAKARTA, KBK – Ahad sore ditemani suasana sejuk khas Taman Menteng, puluhan orang terlihat duduk bersila dengan posisi melingkar di bawah pohon berkanopi rimbun. Tampak seorang wanita yang terlihat seperti mahasiswa memberikan beberapa arahan dan meminta masukan kepada para audience. Mereka larut dalam diskusi usai menyerahkan donasi kepada para pemulia.

Tak lama kemudian Yona Luverina (21) Founder Komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta (KNJ) menunjuk salah seorang anggotanya guna dimintai pendapat menyoal kegiatan yang baru dilakukan. Kegiatan evaluasi sengaja dilakukan diruang terbuka seperti Taman Menteng atau Taman Honda Tebet mengingat komunitas ini tak memiliki kantor.

“Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari pemberian donasi hari ini, apakah ada kendala,” tanya Yona kepada para anggota KNJ yang meriung sejak pukul setengah 4 sore.

Setiap minggu ke empat diakhir bulan merupakan jadwal rutin KNJ menyerahkan donasi sekaligus evaluasi bersama para anggota komunitas. Donasi berupa uang tunai senilai Rp 2,3 juta dan sembako.

Wajah senang, haru dan gembira tampak menghiasi wajah para anggota yang berebut ingin menjawab pertanyaan Yona. Tak sedikit juga diantara anggota yang terlihat kelelahan akibat habis keliling Jakarta menyerahkan donasi kepada para pemulia atau orang-orang tua dan penyandang disabilitas yang menolak mengemis untuk menyambung hidup.

Untuk menarget dan menyerahkan donasi kepada kaum pemulia, Babbul Aldian, Panji Esnu, Gigih Linanto, Anindita Dwikinanti dan anggota lainnya yang tergabung dalam tim field executor KNJ harus melakukan survey selama 1 bulan. Dibawah sengatan matahari Jakarta yang terik, tim field executor KNJ rela mencari dan mengikuti para pemulia kemana pun mereka pergi.

“Pertama kami tentukan target, setelah ketemu kami ikuti selama beberapa hari lalu kami ajak ngobrol, jika sesuai kriteria pada akhir bulan kami berikan donasi,” ucap Babbul Aldian ketua Koordinator  tim field executor KNJ.

Menurut Mega Herlinda (27) Humas komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta, aksi memuliakan para orang tua dan penyandang disabilitas mulai terbentuk pada Juni 2015 dimotori oleh Rizki Wijaya Pratama, Mahasiswa Jogjakarta yang merasa iba melihat nenek penjual gerabah.

Langkah kecil Rizki membantu sang nenek ternyata berdampak besar hingga terbentuknya Komunitas Ketimbang Ngemis diberbagai kota di Indonesia hingga mencapai 66 regional, salah satunya regional Jakarta Raya dengan komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta KNJ yang terbentuk pada September 2015.

Kendati tujuan KNJ sangat mulia namun tak sedikit pula para pemulia yang merasa ketakutan bahkan menolak diberikan donasi. Mega mengatakan terdapat tiga faktor yang membuat mereka takut.

“Pertama mereka mengira bahwa kami dari dinas sosial, kedua mereka takut namanya dijual untuk kepentingan tertentu dan terakhir mereka takut karena tidak mengerti dengan tujuan kami,” ucap karyawan perushaan IT tersebut.

Mega mengenang, dahulu sebelum ada donatur tetap untuk KNJ dirinya bersama anggota KNJ yang kini sudah mencapai 62 anggota, rela membongkar tabungan pribadi dan berjualan pakaian bekas serta aneka camilan saat acara car free day yang keuntungannya didonasikan bagi para pemulia.

Setiap bulan Mega menarget 10 hingga 15 orang pemulia sebagai sasaran donasi. Terakhir akhir Agustus lalu, donasi diberikan kepada Syamsu (80), kakek penjual kantong  plastik dikolong  fly over pasar Kebayoran Lama.

“Target kami ada dua kriteria yakni keterbatasan fisik dan orang tua diatas usia 60 tahun yang masih giat bekerja,” kata wanita jebolan Universitas Nusa Mandiri, starata satu jurusan Sistem Informasi itu.

Mega mengisahkan, usia yang tak lagi muda ditambah kondisi fisik yang tak lagi bugar, dalam kesehariannya Syamsu tetap giat pergi pulang dari tempat tinggalnya di Parung Panjang, Bogor menuju Kebayoran Lama menggunakan Kereta Api Comuterline. Demi menghidupi istri tercinta, kakek Syamsu yang kini memiliki 20 cucu dari 7 orang anak rela mengangkat kantong kresek untuk dijajakan di Pasar Kebayoran Lama.

Tak jarang ketika pemberian donasi Mega dan anggota lainnya menerima perlakuan tidak mengenakan dari para tetangga yang iri dan gangguan preman di tempat si pemulia berjualan. Mengatasi hal tersebut kini Mega selalu menggandeng pejabat setempat seperti ketua RT saat pemberian donasi.

“Setiap pemberian donasi kami selalu lakukan di rumah. Sebab banyak preman yang meminta bagian kalau kami berikan donasi di jalan. Ketika pemberian donasi kami usahakan tak menarik perhatian publik, oleh karena itu kami tidak memiliki seragam maupun atribut,” jelas Mega.

 

 

 

Advertisement