Empat Penyebab Tingginya Angka Putus Sekolah di Riau

Ilustrasi Pendidikan Sekolah Dasar/ Foto:solopos.com

Pekanbaru – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Riau mencatat sekitar 162.000 anak mengalami putus sekolah mulai dari tingkat SD hingga SLTA, dan disebabkan oleh empat faktor yakni, geografis, sosial, ekonomi dan kesenjangan prasarana.

Kepala Disdikbud Riau Kamsol di Pekanbaru, mengurai hal tersebut, “Angka anak putus sekolah cukup tinggi mencapai 162.000 anak dengan empat faktor penyebab di antaranya kondisi geografis, sosial, ekonomi dan kesenjangan dari prasana,” katanya, di Pekanbaru, Kamis (15/9/2016).

Ia menambahkan meskipun berdasarkan neraca pendidikan 2015 yang menitik beratkan pada penganggaran pendidikan daerah setempat sudah cukup bagus dalam indikator pencapaian kinerja, namun kelemahan masih terjadi pada tingginya angka anak putus sekolah di kawasan itu.

“Indikator capaian kinerja kedepannya harus berdasarkan investasi Sumber Daya Manusia bukan difokuskan pada pengeluaran atau pembiayaannya,” kata Kamsol.

Kendati demikian, berdasarkan Angka Partisipasi Kasar (APK), menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan meningkat tiga persen pada 2015 dengan intervensi pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas baru, sehingga penanganan terhadap angka partisipasi sekolah tertangani dengan baik.

Menurut dia, penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga menjangkau anak putus sekolah sehingga mendapat hak akses pendidikan sama. Tetapi hingga kini pihak Pemprov Riau masih dalam tahapan sinkronisasi data penerima KIP dengan satuan kerja terkait.

Atas tingginya angka putus sekolah, ia mengaku khawatir dengan dampaknya pada keterlibatan narkoba, dan sejumlah prilaku merusak lainnya karena terbatasnya kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

“Masalah ini tidak bisa diabaikan begitu saja sehingga hal ini perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Riau dan semua pihak terlibat untuk mengajak mereka kembali untuk sekolah di jalur formal dan informal. Cari mereka di terminal-terminal, di pasar-pasar,” katanya, demikian dilansir Antara.

Advertisement