Waspada! 9.000 Pekerja Industri Manufaktur Terancam PHK

Buruh demo menuntut ancaman PHK (Foto: Ist)
JAKARTA, KBKNews.id – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dalam tiga bulan ke depan. Kondisi tersebut dipicu kenaikan biaya produksi akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga bahan bakar dan ongkos logistik internasional.
Presiden KSPI sekaligus Ketua Partai Buruh, Said Iqbal, mengatakan sedikitnya 9.000 pekerja di 10 perusahaan di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berpotensi terdampak PHK. Menurutnya, perusahaan melakukan efisiensi karena biaya operasional terus meningkat.
Said menjelaskan industri menggunakan bahan bakar nonsubsidi yang harganya mulai naik sejak Mei 2026. Selain itu, perusahaan juga menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor akibat mahalnya ongkos pengiriman serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ia menyebut nilai tukar rupiah terus tertekan sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu. Dalam sepekan terakhir, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS, melemah dibanding posisi sebelum perang yang berada di level Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Salah satu perusahaan yang terdampak adalah PT Xacti Indonesia, sebelumnya dikenal sebagai Sanyo. Perusahaan yang berbasis di Depok, Jawa Barat, itu resmi menutup operasional bulan ini setelah mengalami kesulitan keuangan sejak tahun lalu. Penutupan tersebut menyebabkan 350 pekerja kehilangan pekerjaan.
Selain Xacti, Said menyebut sejumlah perusahaan lain yang telah melakukan PHK pada bulan ini, antara lain PT Shinhwa, PT Lung Cheong Brothers Industrial, dan PT Parkland World Indonesia. Sementara itu, PT Nikomas Gemilang di Serang, Banten, juga dilaporkan memangkas 279 pekerja.
KSPI juga mencatat kawasan industri Karawang, Jawa Barat, baru-baru ini mencatat 1.323 pekerja terkena PHK. Gelombang pengurangan tenaga kerja turut dirasakan industri otomotif di Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat turunnya permintaan kendaraan, melemahnya daya beli masyarakat, serta mahalnya impor komponen.
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here