Siksaan Psikologis Jadi Hal Terberat Bagi Sandera Abu Sayyaf

Kjartan Sekkingstad, salah satu sandera Bau Sayyaf asal Norwegia yang dibebaskan bersama tiga WNI bercerita tentang kisahnya disandera/ Straitstimes.com

FILIPINA – Kjartan Sekkingstad, sandera Kelompok Abu Sayyaf asal Norwegia yang telah dibebaskan masih sempat bercerita tentang siksaan psikologis yang selama ini ia alami selama disekap.

Dengan wajah lusuh, bercambang dan terlihat sangat lelah saat dibebaskan pada Sabtu (17/9/2016), dia masih sempat berbagi cerita tentang kisahnya ketika disandera.

“Saya diperlakukan seperti budak, dengan disuruh membawa barang-barang mereka. Tidak jarang juga mereka melecehkan,” kata Sekkingstad saat diserahkan kepada wakil pemerintah di kota Indanan di Pulau Jolo, sebagaimana dilansir AFP.

Menurutnya hal terberat yang harus dialaminya adalah siksaan psikologis karena kelompok itu berulang kali mengancam akan memenggalnya. Bahkan hingga kini masih membekas di bayangannya saat dua warga Kanada yang berada di resor yang sama juga diculik dan telah dipenggal oleh para penyandera, yakni John Ridsdel dan Robert Hall.

Ia mengungkapkan ketika akan keduanya itu dieksekusi secara terpisah pada April dan Juni, ia dapat mendengar jelas teriakan keduanya karena tempat eksekusi tidak jauh dari lokasi ia disandera.

“Sebelum dipenggal mereka diborgol dibawa keluar, tetapi masih cukup dekat sehingga kami masih bisa mendengar teriakan mereka,” ungkapnya.

“Kondisi itu sangat menakutkan,” tambahnya dengan tubuh gemetar.

Diketahui, Sekkingstad dan tiga WNI dibebaskan kelompok Abu Sayyaf melalui kelompok pemberontak lainnya yang dipimpin Nur Misuari, yang juga membantu proses pembebasan. Dengan pengawalan ketat keempatnya pada Minggu (18/9/2016), diserahkan Nur Misuari kepada perwakilan pemerintah Filipina, Jesus Dureza.

Advertisement