JAKARTA (KBK) – Alur kehidupan Dewi Arianti (30) begitu lekat dengan dunia usaha. Sejak mengenyam pendidikan SMA ia sudah terbiasa dengan aktifitas jual beli di rumahnya. Kini wanita lulusan D1 Sekolah Bisnis Umar Usman itu fokus membuka usaha bengkel motor.
Ketika menjelang siang ditengah bisingnya suasana bengkel dan kepulan asap kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan Tipar Cakung, Jakarta Timur, wanita yang akrab disapa Ari itu terlihat sibuk dan cekatan melayani konsumen yang hendak membeli suku cadang sepeda motor.
Sambil melayani konsumen Ari berkisah. Dahulu setiap pulang sekolah Ari selalu mampir ke bengkel ayahnya Sumardi sekedar untuk membantu sang kakaknya Wiwin melayani konsumen. Hal tersebut rutin Ari lakukan setiap hari disamping usahanya menjaga toko sembako.
Namun keadaan berubah drastis ketika sang kakak meninggal dunia pada tahun 2005. Sejak saat itu Ari dipercaya oleh Ayahnya untuk mengendalikan bengkel. Lambat laun Ari pun mulai mengenal nama-nama spare part dan jenis sepeda motor hingga pada akhirnya ahli menangani motor rusak.
“Saya mulai pegang bengkel sejak 2006, saya tidak jadi meneruskan kuliah padahal sudah lolos seleksi. Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena sudah di amanahi untuk meneruskan bengkel,” jelas Ari di bengkelnya kepada KBK, akhir September lalu.
Pada periode 2006-2011 Ari dirasuki dilematis karena jati dirinya sebagai wanita namun mesti memegang usaha bengkel yang notabenen dilakukan oleh kaum Adam. Kegalauan itu makin menjadi-jadi pada tahun 2010, tak sedikit dari teman-teman Ari yang meganggap Ari sebagai wanita macho berkat kesehariannya yang selalu berkutat dengan kunci inggris.
“Ternyata saya berpresepsi dengan pandang yang salah. Setelah di hayati saya menemukan keasikan, ini jalannya, pemahaman itu baru muncul ditahun 2011. Mengapa saya memandang itu sebagai titik lemah, justru ini saya jadikan titik plush. Kan jarang ada wanita bergelut usaha bengkel,” terang Ari sambil sesekali memerintahkan mekaniknya untuk bekerja lebih teliti.
Seiring berjalannya waktu wanita kelahiran Januari 1989 itu mulai merasa perlu mendapatkan suntikan ilmu dan wawasan guna mengembangkan usaha. Segala bentuk sumber ilmu dan motivasi yang berkaitan dengan dunia bisnis ia jelajahi melalui dunia maya hingga pada akhirnya berjumpa dengan Kampus Bisnis Umar Usman.
Bagi Ari mendapatkan ilmu secara interaktif jauh lebih efektif ketimbang hanya mendengar dan melihat di layar monitor. Oleh karena itu Ari tertarik mengambil jurusan Marketing dan lulus satu tahun kemudian pada september 2016 dengan menyandang gelar D1.
Berkat kegigihannya menahkodahi usaha bengkel, Ari pun mendapat Entertaiment Award 2016 dari Kampus Bisnis Umar Usman. Ari menilai, dirinya mampu menyabet penghargaan tersebut tak lain karena sudah mau dan berhasil survive menjalani usaha bengkel meski ia seorang wanita.
“Setiap bisnis punya rasa manis dan pahit masing-masing kuncinya fokus dan terus belajar mengembangkan,” ucap bos bengkel Kevin Jasa Tehnik itu.
Berkat kerja kerasnya sedari tahun 2006, kini Ari telah berhasil membangun relasi dengan 20 perusahaan rekanan suku cadang sepeda motor dan mampu membuka lapangan kerja bagi orang di sekitar tempat tinggalnya. Dengan mempekerjakan 3 orang mekanik dan 1 asisten setiap bulannya Ari bisa mengantongi omset Rp 200 juta dengan keuntungan bersih 60 persen.
“Menurut saya bisnis jasa itu lebih menguntungkan ketimbang barang, dari bisnis jasa kita bisa kantongi keuntungan bersih sampai 80 persen. Oleh karena itu bengkel saya sangat spesialis dalam hal jasa pres body, service, pres segitiga motor, bubut, bikin dudukan dan body repair,” ungkap Ari bersemangat.





