JAKARTA (KBK) – Sebelum sang surya mulai bersinar di ufuk timur, Wajita sudah tampak sibuk menyusun buah ke dalam keranjang bambu pikulannya. Usianya yang tak lagi produktif tak dijadikan Wajita sebagai penghambat, bersama peci putihnya Wajita siap menjemput rezeki dengan menyusuri jalanan ibu kota.
Meski harus berjuang seorang diri memenuhi kebutuhan keluarga di kampung, Wajita tak pernah gentar. Beratnya pikulan buah dan jauhnya perjalanan yang harus ia tempuh justru makin mengokohkan langkah-langkah kakinya.
Dengan suara lirih Wajita mengaku masih ingin berjualan akibat tekanan ekonomi yang menerpa keluarganya. Aneka buah yang di jajakan Wajita pun tak banyak variasi, sebut saja pepaya dan jeruk yang selalu setia menempati keranjang pikulan Wajita. Selain itu Wajita juga kerap menjual buah musiman.
Sengatan matahari Jakarta yang panas sudah bukan hal baru bagi kakek berusia 71 tahun itu. Keringat yang berkucur deras membasahi wajah Wajita memang tidak setimpal dengan usahanya, namun menurut Wajita usahanya menafkahi istri dengan cara berjualan buah pikulan masih lebih mulia ketimbang harus mengemis.
“Anak dan istri saya di Cirebon, disini saya tinggal bersama pedagang buah lainnya di daerah Petogogan,” kata Wajita ketika ditemui Komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta akhir September lalu.
Sejak 60 tahun lalu nyaris sepanjang hari Wajita memikul buah menyusuri jalanan di sekitar Condet, Ranco hingga perempatan Mangga Besar, Jakarta. Harga buah yang dibandrol Wajita pun cukup murah, untuk 1 kilogram pepaya dipatok Wajita seharga Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu untuk per 1 kilogram jeruk.





