SOLO – Belum tersedianya anggaran, membuat program relokasi warga bantaran Sungai Bengawan Solo, serta warga yang terdampak pembangunan embung karet Tirtonadi, ditunda hingga 2017.
“Relokasi itu kan terkait anggaran. Anggaran baru diajukan 2017,” kata Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo di Solo, Jumat (21/10/2016).
Biaya yang dibutuhka menurutnya tidak sedikit, sehingga tahun ini Pemkot Surakarta tidak mungkin dapat menggelontorkan anggaran untuk menyelesaikan relokasi puluhan keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo.
Selain persoalan anggaran, Rudy juga menyebut masih banyaknya warga berstatus hak milik (HM) yang hingga kini belum menyepakati nilai ganti rugi sesuai tawaran Pemkot. Warga menginginkan ada penghitungan ulang besaran ganti rugi bangunan yang akan diberikan Pemkot.
“Ya kami sedang berupaya menyelesaikan masalah ini. Jadi kami ingin relokasi tuntas tahun depan, sebab 2018 parapet dari Mojo hingga Jurug sudah dibangun,” katanya, dilansir Antara.
Rudy dalam waktu dekat berencana memanggil warga bantaran yang masih tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo. Dengan berbagai pendekatan itu diharapkan relokasi selesai 2017.
Ia mengatakan untuk warga terdampak pembangunan bendung dan embung karet Tirtonadi, Pemkot telah menyiapkan rumah susun sewa sederhana (rusunawa) untuk menampung mereka. Saat ini, baru satu unit rusunawa yang dibangun di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Mojosongo. Sedangkan tiga unit rusunawa susulan akan dibangun tahun depan.





