“Anda dari mana? Apa tujuan datang kemari?, “ tanya seorang pria Dayak bercawat dan sekujur tubuhnya dihiasi tato dengan nada tinggi pada rombongan wisatawan di gerbang perkampungan budaya dayak di seputar kawasan Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Baru setelah “ditengahi” oleh pemandu wisata, pengunjung ia persilahkan masuk.
Adegan singkat itu hanyalah sekelumit kiat Malaysia “menjual” obyek wisata pada para pelancong dari manca negara. Di kawasan budaya “Mari Mari” tersebut terdapat berbagai rumah panggung terbuat dari kayu dan bambu, beratapkan rumbia atau daun lontar dengan ragam gaya arsitektur masing-masing yang mewakili asal-usul etnis Dayak yang mendiaminya. Di desa vudaya “Mari Mari” pelancong dapat “menyelami” peradaban masa lalu Suku Kadazandusun, Suku Murut yang dikenal sebagai pemburu kepala (head hunter), Suku Rungus dan Suku Lundaya yang mendiami wilayah Sabah.
Mereka memeragakan cara tempo doeloe menyalakan api dengan menggosok-gosok batu yang percikannya membakar jerami, melinting nipah untuk membuat rokok dan memanah dengan sumpit. Para tamu juga dipersilahkan memilih bahan mentah lauk seperti keratan daging sapiau ayam, sayur-mayur lengkap dengan bumbunya dan memasukkannya ke dalam bambu untuk kemudian dipanggang di atas api. Di akhir kunjungan nanti, pengunjung dapat menikmati masakan yang mereka masak sendiri.
Kalimantan wilayah Indonesia jelas lebih luas dari milik Malaysia, dihuni lebih banyak ragam etnis Dayak, sehingga khazanah seni-budaya, adat istiadat, arsitektur bangunan, juga ragam kuliner mereka jauh sebenarnya lebih beraneka untuk ditampilkan pada turis-turis asing.
Namun ironis, Kalimantan Indonesia yang lebih luas dan kaya dengan warisan seni-budaya dan kearifan lokal penduduknya dan juga dikarunia aneka keragaman hayati dan satwa serta keindahan alam tidak dikelola dengan baik. Selain prasarana dan sarana perhubungan yang buruk, sebagian ekosistem juga telah rusak, bahkan sebagian kawasan hutannya juga porakporanda eksploitasi secara berlebihan, baik oleh pembalak liar maupun resmi.
Rasanya, masih sangat jauh jalan untuk menjadikan industri wisata sebagai peraup devisa utama Kalimantan, karena tanpa ketersediaan sarana dan prasarana serta kesiapan “stake holders” seluruh kegiata wisata, baik swasta maupun pemerintah, juga kesiapan masyarakatnya, sulit untuk “menjual” potensi sumber daya wisata yang dimiliki.
Akibat buruknya prasarana dan sarana perhubungan, bahkan sebagian warga negara Indonesia di tapal batas, malah sering tergantung pada pemerintah Malaysia dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka,
Keindahan atau keunikan obyek wisata memang merupakan salah satu daya tarik utama bagi calon wisatawan, tetapi tentu saja masih banyak faktor lain yang juga menunjangnya, mulai dari kemudahan akses menuju lokasi termasuk juga daya saing biaya transportasi dan akomodasi , kelestarian lingkungan di sekitar obyek wisata, keamanan dan kenyamanan, juga kebersihan sanitasi terutama toilet-toilet umum. Wisatawan asing juga mengeluhkan keberadaan pedagang asongan, pengamen dan pengemis di sejumlah kawasan wisata di Indonesia.
Dari sisi aksesibilitas, perlu keberadaan bandara laut atau udara, sedapat mungkin di lokasi terdekat dari obyek wisata, begitu juga prasarana transportasi jalan raya dan kereta api. Kenyamanan berkendara dan kelestarian lingkungan di sepanjang rute menuju obyek wisata, juga akan ikut menambah daya tarik wisatawan, begitu juga warung-warung atau resto dengan sajian aneka kuliner tradisional yang khas, namun dengan standar hygienis tinggi, namun wajar harganya. Warga sadar wisata, yang akan menyambut wisatawan dengan ramah dan dapat menunjukkan arah jalan bagi wisatawan yang tersesat atau dapat memberi informasi tentang obyek wisata di sekitar lingkungannya.
Tidak berlebihan rasanya, jika Menteri Pariwisata Malaysia menyatakan iri dengan besarnya potensi wisata yang bisa dikembangkan Indonesia ketimbang negaranya.
“Kami harus menciptakan tema-tema khusus untuk menarik wisatawan asing mau berkunjung. Hal itu berbeda dengan Indonesia yang memiliki aneka obyek wisata, sehingga tidak diperlukan kerja keras, tinggal membenahi dan kemudian mengelolanya dengan baik, ” kata M. Nazri Abdul Aziz.
Sebaliknya, Indonesia seharusnya juga iri atas keberhasilan negeri Jiran itu memajukan industri pariwisatanya. Bayangkan, dengan obyek wisata yang lebih terbatas, Malaysia berhasil menjaring sekitar 25 juta wisatawan setiap tahun dibandingkan Indonesia yang hanya mampu mendatangkan sekitar 10 juta wisatawan.
Indonesia memang harus menyukuri kekayaan khasanah alam yang diberikan Tuhan. Ribuan kilometer wilayah pantai bisa dipilih untuk wisata bahari, begitu pula dengan belasan ribu pulau, kawasan hutan termasuk aneka spesies hewan dan vegetasi yang menghuninya, gunung berapi, jeram, lembah dan danau. Sebut saja apa yang bisa dijadikan obyek wisata. Hampir seluruhnya ada di Indonesia.
Sayangnya, sejauh ini Indonesia lebih banyak mengandalkan Bali yang sudah “ready made”, baik dari sisi alam, khasanah seni-budaya dan kesiapan penduduknya maupun aksesibilitasnya, sehingga kurang usaha untuk menggali obyek-obyek wisata lain yang luar biasa potensinya.
Beruntung, saat ini pemerintah Jokowi menyadarinya dan mulai membenahi secara bertahap – sesuai kemampuan anggaran – obyek-obyek wisata prioritas yang diharapkan nantinya ikut menambah pundi-pundi keuangan negara dari raupan devisa.
Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah dan Mandalika di Lombok merupakan tiga destinasi wisata prioritas yang akan dikembangkan pemerintah.Bank Dunia memberikan pinjaman sekitar 200 juta dolar (setara Rp2,6 triliun) dari sekitar 500 juta dolar yang diperlukan.
Untuk lingkungan kawasan Danau Toba misalnya, akan dibangun ruas jalan tol Tebing Tinggi-Pematang Siantar-Sibolga (175 Km), bandara Sibisa dan Silangit, peningkatan mutu hutan lindung dan air danau dan pemukiman warga yang berkualitas.
Sedangkan di kawasan wisata Borobudur berupa pembenahan infrastruktur dasar (jalan, listrik, pengolahahn air dan komunkasi di jalur utama (Candi Borobudur, Mendut dan Pawon), pembangunan jalan Tol Yogyakarta – Bawen, Bandara Kulon Progo dan pembenahan 27 desa wisata di sekitarnya.
Sementara di kawasan wisata mandalika, akan dibangun antara lain tol Bandara Praya – Mandalika, Bendungan Meninting, Kawaan Ekonomi Khusus (KEK), infrastruktur pengelolaan air dan sanitasi di kawasan pariwisata serta pembenahan rumah-rumah penduduk.
Kita tentu tidak hanya bisa meratapi nasib atas kekeliruan dan keabaian yang dilakukan masa lalu dan menjadikan apa yang dilakukan pemerintah untuk memprioritaskan pembenahan tiga destinasi wisata menjadi awal kebangkitan sektor pariwisata di Indonesia.
Dengan menyelesaikan seluruh “PR” dan kendala di biang pariwisata satu persatu sesuai kemampuan anggaran, bukan mustahil,anak cucu bangsa ini nantinya akan menikmati besarnya devisa yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan asing. (Oleh: Nanang Sunarto)





