PEJABAT sering mengatakan, kemiskinan dan kebodohan harus dilawan. Tapi bisakah beliau menggunakan APBD/APBN untuk melawan ketuaan? Tidak bisa! Ilmu apapun di dunia ini belum ada yang mampu mencegah manusia menjadi tua atau tetap muda. Kalaupun ada, itu hanya sekedar memperlambat proses ketuaan. Itu sudah menjadi kodrat setiap makhluk hidup. Yang muda menjadi tua, yang tua kemudian menjadi mayat, karena kehilangan nyawa.
Tanda-tanda ketuaan itu paling mudah dilihat ketika seseorang mulai meninggalkan dunia hitam. Bukan sadar dan pensiun sebagai penjahat, melainkan rambutnya memutih. Setelah itu mulai terkena penyakit 8 B, yakni: buyuten (jalan mulai goyah), budeg, blawur (pemandangan tidak jelas), beser (banyak kencing), balseman (karena masuk angin) dan ….brat bret brotttt alias kentut melulu.
Banyak tokoh nasional di Republik ini yang meninggalkan “dunia hitam” dengan bangga. Sebab dengan keputihan rambutnya tersebut mereka justru tampak lebih berwibawa. Misalnya: Laksamana (purn) Sudomo menterinya Pak Harto, Hatta Radjasa menteri di Kabinet SBY, pengacara kondang Adnan Buyung Nasution, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Di Solo tahun 1975, ada komunitas orang-orang yang sudah meninggalkan “dunia hitam” itu, namanya Paguyuban Rikma Pethak (PRP). Setiap pagi sekelompok orang usia 60 tahun ke atas jalan-jalan di Jl. Slamet Riyadi, belok kiri ke Jl. Sidomulyo (kini KH. Agus Salim). Sepanjang jalan topik perbincangannya soal penyakit dan obat kuat. Tak jelas, apakah PRP itu kini masih ada. Tentunya mereka telah meninggalkan dunia fana ini, istirahat di TPU Banalaya atau Pracimalaya.
Andaikan bisa, manusia itu sesungguhnya tak mau tua. Karenanya meski ketuaan tak bisa dilawan, banyak yang mencoba menyiasati dengan main tipu-tipu sedikitlah. Ketika rambut mulai nyambel wijen (tumbuh uban) direkayasa dengan disemir. Repotnya, kebanyakan kepala lelaki tua dilanda kebotakan. Jadi meski rambut menghitam, tetap saja ada bagian seperti lapangan bola depan gawang.
Tapi dengan rambut yang kembali hitam, menjadikan pemiliknya merasa pede kembali. Naik busway di Jakarta, tidak akan ada lagi penumpang muda mengatakan, “Silakan duduk Pak.” Di dalam busway memang ada aturan, agar memprioritaskan pada penumpang: cacat, wanita hamil dan orang tua. Tapi ironisnya, ada juga lho orang yang “tersinggung” ketika ditawari duduk dalam biskota. Masalahnya, penghormatan itu sekaligus mengatakan: sampeyan sudah tua!
Orang timur punya ungkapan lama: hormatilah orangtua! Mengapa orang sudah tua musti dihormati? Bukankah ketuaan itu hanya sebuah keniscayaan, bukan prestasi yang perlu dikagumi? Tapi ingat, dalam Islam juga mengajarkan itu. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Di antara bentuk pengagungan kepada Allah adalah memberikan rasa hormat kepada orang muslim yang usianya lebih tua, dan kepada pemimpin yang adil.” (HR. Abu Dawud).
Dalam kultur manusia Jawa, penghormatan pada orang yang sudah tua, adalah mutlak. Lihat saja dalam tradisi kenduri atau bancakan di pedesaan, kalangan sesepuh pasti dipersilakan duduk lesehan di bagian atas. Sebab orang yang sudah tua dianggap lebih berpengalaman, menep (mengendap) ilmunya sehingga banyak dimintai petunjuk.
Jika orang sudah tua kelakuannya masih nganeh-anehi, itu namanya: tua bangka! Orang Jawa menyebut: tuwa tuwas atau sepuh sepah. Maksudnya: percuma saja berusia tua! Dalam dunia perwayangan, tokoh seperti ini namanya Pendita Durna dari Sokalima, atau Begawan Wisrawa dari Lokapala. Meski sudah tua mereka ini masih memperturutkan hawa nafsu. Wisrawa misalnya, Dewi Sukesi yang calon istri anaknya (Prabu Danaraja), malah dikawini sendiri. (Cantrik Mataram).





