Intan, Balita Korban Bom Samarinda Hanya Bertahan Hidup 17 Jam

korban bom samarinda
ledakan bom di gereja di Samarinda/ Tribunnews

SAMARINDA – Seorang balita korban peledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Intan, hanya bertahan 17 jam setelah terkena ledakan pada Minggu (13/11/2016).

Keceriaan Intan Octavia Banjarnahor tinggal kenangan bagi keluarganya. Ia meninggal pada Senin (14/11/2016) pukul 04.30 Wita.

“Intan anaknya selalu ceria, dia ceriwis, suka mengajak ngobrol. Intan waktu kejadian itu main di teras rumah setelah jajan susu cair di warung depan gang, semua yang didekatnya diajak ngomong,” kata Balutan Julianto Banjarnahor, paman Intan, dilansir Tempo.co, Selasa (15/11/2016).

Julianto mengaku sangat kehilangan si balita cantik yang sangat dekat dengannya. Kini keceriaan itu sudah tak mungkin ada lagi. Intan terbujur kaku di peti jenazah dengan kondisi mengenaskan.

(Baca Juga: Lembaga Perlindungan Anak Sesalkan Bom Samarinda )

Menurut keterangan pejabat rumah sakit, Intan mengalami luka bakar mencapai 78 persen. Paru-parunya bengkak yang diduga akibat menghirup asap sisa ledakan. “Intan meninggal karena luka bakar yang parah,” kata Rachim Dinata, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie.

Intan Octavia Banjarnahor meninggal setelah hampir 17 jam menanggung luka melepuh dan pembengkakan paru-paru. Deritanya itu akibat efek bom molotov yang dilemparkan Juhanda, eks narapida teroris, ke Gereja Oikumene di Samarinda, Minggu, (13/11/2016), sekitar 10.10 Wita.

Advertisement