JAKARTA – Gelaran Parade Bhinneka Tunggal Ika berlangsung damai pada hingga akhir acara, pada Sabtu (19/11/2016). Parade ini diikuti semua elemen masyarakat, lintas agama, lintas kelompok, lintas suku, dan komunitas.
“Ini baru pertama, kami berharap ini bukan yang terakhir. Kami berharap kalau yang di daerah-daerah mau membuat kegiatan seperti ini sangat bagus biar viral,” kata Nong Darol Mahmada, penggagas Parade Bhinneka Tunggal Ika, dikutip dari Antara.
“Kami berharap kita dapat melakukan hal seperti ini lagi, mungkin lebih massive lagi, dan kami akan konsolidasi terus,” sambung dia.
Dia menjelaskan bahwa acara tersebut digelar untuk mengingatkan kembali dan merayakan kembali kebhinnekaan.
Menurutnya akhir-akhri ini ada kecenderungan beberapa kelompok yang ketika ada orang yang berbeda baik itu individu maupun kelompok ataupun komunitas ada yang dikucilkan, ada pula yang dimaki.
“Itu menciptakan ketakutan. Sekarang ini kami ingin memperlihatkan bahwa kita jangan takut, kita harus merayakan kebhinnekaan ini. Justru dengan kondisi seperti ini kita harus bangga sebagai bangsa untuk berbeda,” kata dia.
“Dalam kesepakatan kita untuk parade ini kita tidak memakai identitas nama kita, kita melebur menjadi satu sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.
Acara pun ditutup dengan menyanyikan lagu Slank, Terlalu Manis, sambil membagikan mawar merah sebagai simbol solidaritas dan perdamaian. Peserta Parade Bhinneka Tunggal Ika mulai meninggalkan area panggung yang berlokasi di silang Monas, depan patung kuda, menuju kendaraan mereka yang terparkir di jalan Medan Merdeka Selatan.





