“Endhas” Dan Isi Kepala Kita

DALAM bahasa Jawa, endhas itu mengandung makna: kepala. Tapi jika kata tersebut ditambah akhiran “mu” dan ditujukan orangtua, maknanya menjadi sebuah makian kasar sekali. Kata-kata tidak beretika. Tapi pada akhirnya juga tergantung kepada manusia pemilik endhas itu sendiri. Isi kepalanya sudah menep (mengendap) atau belum, atau sekedar otak udang yang gampang meradang.

Kata “ndhasmu” beberapa hari lalu masuk jagad medsos dan ditujukan kepada KH. Mustofa Bisri ulama dari Rembang. Yang mengucapkan anak muda bernama Pandu Wijaya, pegawai honorer di PT Adhi Karya, Jakarta. Banyak netizen yang marah dan membully Pandhu Wijaya. Untung PT Adhi Karya cepat tanggap. Fajrul Rachman selaku Komisaris Adhi Karya segera minta maaf kepada Pak Kiyai, atas perilaku anakbuahnya yang bertindak srogal-srogol (tidak sopan) itu.

Meski di-endhas-endhas-kan orang, tapi isi kepala Kiyai Gus Mus memang sudah menep. Maka reaksi dan jawaban Pak Kiyai sangat bijak dan sejuk. Katanya, tak ada yang perlu dimaafkan. Pandu itu hanya menggunakan “bahasa khusus” di ruang publik, namanya juga anak muda. Tapi pihak Adhi Karya masih tak enak juga, sehingga bersama ibunya Pandu Wijaya diajak ke Pesantren Raudlatuh Tholibin untuk minta maaf langsung. Gus Mus kembali mengulangi ucapan sebelumnya, dan ditambahkan pula, “Tolong Pandu jangan sampai dipecat, maklum masih muda.”

Anak muda memang banyak yang kurang peduli etika. Jangankan yang hanya pegawai honorer, seorang dokter muda di Purworejo (Jateng) pernah juga “ngendhas-endhas”-kan orang karena ketidakmengertiannya. Kepada pasien nenek-nenek, dia mencoba bertanya sok akrab, “Endhase raose pripun (bagaimana rasa kepalanya).” Si nenek tidak marah, kecuali membatin, “Sudah tua begini di-endhas-endhaske.”

Selain ulama, Gus Mus juga seorang penyair. Apakah kesenimannya ini ikut menjadikan jiwanya menjadi lebih menep menghadapi segala persoalan? Beliau tidak mau terbakar emosi, sehingga mengeluarkan “fatwa-fatwa” yang membakar. Bayangkan, untuk serangan atas nama pribadinya saja, Pak Kiyai menyikapi dengan damai. Qur’an memang memerintahkan, segala kejahatan balaslah dengan kebaikan. “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Gus Mus sangat bijak, beliau tidak mau terjebak permusuhan hanya karena kata-kata ndhasmu. Kita ber-khusnudzon sajalah. “Endhas” ketika dihubungkan dengan ikan kakap, justru sangat lezat itu. Pada rumah makan Padang, banyak yang mencari “endhas iwak kakap” (kepala ikan kakap). Demikian lezatnya itu barang, harganya pun lebih mahal, dan tak semua rumah makan Padang menyediakannya. Namun  demikian saat pulang akan disuguhi motto: jika enak beritahu teman, jika tidak enak beritahu kami!

Kereta api “endhas ireng” (lokomotif uap), hingga tahun 1970-an juga masih banyak ditunggu orang. Moda transportasi memang belum semaju sekarang. Meski baju bisa bolong-bolong terkena areng stengkul (batubara), penumpang hepi saja. Saking merindukan era “sepur endhas ireng”, belum lama ini lokomotif D52099 bikinan pabrik Fried Krupp (Jerman) itu dibawa dari Jakarta ke Solo untuk tujuan pariwisata.

Jika semua ulama bisa bersikap bijak dan sejuk macam Kiyai Gus Mus, damailah di bumi dan damailah di langit. Janganlah hanya karena masalah sepele, negara ini jadi berabe. Masalah “surat Almaidah ayat 51”, hampir saja mengancam terjadinya desintegrasi bangsa. Soalnya ada sekelompok orang yang hendak menyeret-nyeret bangsa Indonesia  ke Timur Tengah. Kalau makanan Timur Tengah semisal roti kebab dan kacangnya, silakan bawa ke sini, enak itu! Tapi jangan pula paham radikalnya. (Cantrik Mataram).

 

Advertisement