MENJELANG Perang Baratayuda pertengahan Februari 2017 mendatang, Betara Guru dari kahyangan Jonggring Salaka menurunkan paket Wahyu Senopati. Wahyu ini merupakan tiket menuju Perang Baratayuda. Karenanya para tokoh di negeri Amarta dan Ngastina sibuk membahasnya, semua mengukur diri: layak tidak menjadi senapati dalam Perang Baratayuda? Bahkan Harjuna si kolektor wahyu, masih berambisi juga memiliki Wahyu Senopati. Mentang-mentang tak terkena pajak progresif.
Bagi jagad perwayangan, lolos seleksi senapati Perang Baratayuda merupakan kebanggaan dan kehormatan. Presis politisi ditunjuk jadi menteri. Fasilitas seorang senapati dijamin dunia akhirat. Begitu diputuskan jadi, fasilitas rumah mewah, gaji gede dan mobil luks, segera mengikuti. Kalau pun mati dalam Baratayuda, langsung masuk swarga pangrantunan tanpa sekrening. Di sana fasilitasnya lebih hebat. Rumah tinggal pilih, bagus dan luks melebihi jatah mantan presiden. Koleksi bidadari mantan artis juga boleh, karena kerja bidadari di sana memang hanya mamah dan mlumah.
“Kangmas Puntadewa, saya ingin berjuang untuk memperoleh Wahyu Senopati. Mohon doa dan restunya,” begitu kata Harjuna dalam sidang di pasewakan Ngamarta.
“Nggak usah, Dimas. Elektabilitasmu sudah jeblog, karena kamu tukang kawin melulu.” Potong Werkudara sinis dan mendesis.
Larangan poligami bagi peserta seleksi Wahyu Senopati langsung di-blow up sejumlah koran dan portal berita internet termasuk medsos. Tapi meski penguasa Ngamarta sudah memberi sinyal seluas-luasnya pada generasi muda, para putra Pandawa masih pada malu-malu. Satu-satunya peminat baru Gatutkaca. Lainnya seperti Abimanyu, Antareja, Antasena, tak tertarik dengan alasan mau fokus menjadi anggota DPD.
Bagaimana dengan kubu Ngastina? Mereka ternyata juga prei! Yang aneh justru putra Prabu Betara Kresna bernama Setija, bergelar Prabu Boma Nrakasura. Meski wahyu itu dialokasikan untuk Pandawa – Kurawa, dia yang tokoh di luar jalur malah berambisi. Dia beralasan, selama hanya menjadi raja Trajutrisna, sampai Lebaran kuda pun hanya akan jadi tokoh lokal yang takkan diperhitungkan.
“Kanjeng rama, saya mau ikut seleksi Wahyu Senopati. Mohon dukungan dan pengaruhnya.” Kata Prabu Boma Nrakasura saat sowan Prabu Kresna.
“Wahyu Senopati bukan urusan gula impor, jadi tak perlu adu pengaruh. Jika kamu ikut-ikutan, itu akan mempersulit posisi bapak. Kamu tahu kan? Bapak sudah kontrak politik sebagai Timses-nya Pandawa dalam Baratayuda.” jelas Prabu Kresna.
Boma Nrakasura kecewa sekali dengan sikap sang ayah, sehingga dia mak klonyot (tanpa pamit) tinggalkan Dwarawati. Ayah kandung saja tak mau jual pengaruh, apa lagi wayang lain? Dia lalu kasak-kusuk cari dukungan berbeda, jika perlu langsung Betari Durga di Pasetran Gandamayit. Bukankah dia istri resmi Betara Guru? Dulu Ibu Negara bisa mengintervensi Presiden, mestinya Betari Durga juga bisa setir Jonggring Salaka.
Setija berangkat ke Pasetran Gandamayit sambil bawa tas punggung seperti Buni Yani. Boma Nrakasura bertemu dwitunggal Pendita Durna – Patih Sengkuni. Mereka dikenal sebagai tokoh antagonis, aktivis Lembaga Intrik dan Pengembangan Isyu. Urusan dengan mereka berarti uang. Durna yang ahli ilmu kebatinan, menjual ayat-ayat kitab sucinya demi segepok uang. Bahkan ketika kitab suci acuan padepokan Sokalima itu dicetak masal untuk keluarga Kurawa, Durna dan Patih Sengkuni masih juga mbathi (cari untung). Anehnya, kedua tokoh itu hanya jadi saksi, tak pernah naik status jadi tersangka.
“Nakmas Boma Nrakasura mau ke mana? Saya denger-denger mau ikut nyalon Wahyu Senopati, ya?” ujar Durna to the point.
“Memang begitu Eyang Begawan, tapi elektabilitasku kecil. Bahkan bapakku mengganjalnya pula.” Ujar Boma Nrakasura sekalian curhat.
“Bapakmu memang begitu. Kalau saya punya kuasa, oo…..sudah kudubeskan ke Somalia dia…..” kata Patih Sengkuni ikut nimbrung.
Durna dan Sengkuni lalu mengendors dan menyemangati agar tetap maju. Karena memang bukan jalurnya, apa salahnya pakai jalur independen saja. Cukup kumpulkan beberapa ribu KTP wayang, diferivikasi KPW (Komisi Pemilu Wayang), sudah resmi jadi peserta Pilwahsen (pilihan wahyu senopati). Kata Durna, pihaknya punya koneksi Betari Durga yang sangat menentukan.
“Tapi kalau Eyang hanya menyarankan juga ke Betari Durga, aku pun bisa jalan sendiri.”
“Oo, beda, beda. Paling di sana kamu ambil nomer, ngantri berjam-jam. Bersama aku bisa lewat pintu belakang, langsung ketemu Eyang Betari di kamar kerjanya,” kata Durna lagi meyakinkan.
Boma Nrakasura diantar Durna – Sengkuni sowan Eyang Betari Durga. Memang benar, bersama dwi tunggal Ngastina itu raja negeri Trajutrisna bisa ketemu langsung Eyang Betari. Durna sebagai Jubir berdialog dengan Betari Durga, menyampaikan misinya. Tak lama kemudian Betari Durga telpon Hyang Betara Guru. Katanya, besuk pagi suruh langsung menghadap ke Bale Marcakunda dengan bawa segala persyaratannya termask e-KTP dan bukti pembayaran TA (Tax Amnesty).
Dengan harap-harap cemas, Boma Nrakasura pagi itu menghadap Betara Guru. Satu map tebal berisi dokumen pencalonan Wahyu Senopati diserahkan. Betara Guru menerimanya dengan senyum-senyum.
“Kebetulan peminat baru Gatutkaca, siapa tahu kamu yang bernasib baik. Tapi ngomong-ngomong itu Lumpur Trajutrisno belum beres juga. Bayar segera dong, kasihan rakyat. Mereka bakal mengutuk dunia akhirat…,” sindir Betara Guru.
“Tinggal 10 persen Oom, akhir Desember juga beres.” Boma Nrakasura merah padam mukanya. Kok tahu aja penguasa kahyangan ini.
Hingga ditutup waktu pendafaran Wahyu Senopati, peminatnya ternyata hanya Gatutkaca dan Boma Nrakasura. Semua persyaratan telah dipenuhi dengan lengkap. Lalu bagaimana cara menyeleksinya? Pingsut, itu terlalu menyederhanakan persoalan. Atau lewat Pilwahsen langsung melibatkan semua penduduk? Dananya tak mencukupi. Maka jalan satu-satunya khas cara wayang, harus diselesaikan lewat peperangan.
Gatutkaca dan Boma Nrakasura pun sudah bersiap-siap di Tegal Kurusetra, calon ladang pertempuran Baratayuda kelak. Didukung dan disponsori para pengembang masing-masing, pertempuran pun berlangsung di atas panggung 10 X 5 M. Beberapa kali Boma Nrakasura bisa dikalahkan, dia pingsan kena ajian Brajamusthi milik Gatutkaca. Tapi ketika disiram cairan pekat dari Lumpur Trajutrisno, tiba-tiba Boma Nrakasura bangkit kembali, rosa-rosa macam Mbah Marijan.
“Petruk, cepat kamu cari akal.” Perintah Werkudara diam-diam.
Ronde ke-5 pertempuran Gatutkaca – Boma Nrakasura berlanjut. Seperti sebelumnya, setiap raja Trajutrisna KO, langsung disiram Lumpur Trajutrisno. Tapi meski sudah habis bergalon-galon, Boma Nrakasura tak juga siuman. Sampai hitungan ke 50 tak juga bangun, kecuali bilang: mundur. Hari itu juga Gatutkaca dinobatkan sebagai pemenang Wahyu Senopati. Kubu Ngamarta pun bertepuk tangan membahana.
“Kamu apakan lumpur itu Truk?” Harjuna bertanya bisik-bisik.
“Cuma tak campuri miras oplosan.”
Prabu Boma Narakasura yang sudah mati suri segera diboyong oleh Prabu Kresna ke Trajutrisna. Setelah dibekam dan diberi minum air rendaman Kembang Cangkok Wijayamulya, bisa sehat kembali. Tapi itu tak bisa lagi membatalkan gelar Wahyu Senopati untuk Gatutkaca. Memangnya Ketua DPR, sudah mundur pengin balik kembali. (Ki Guna Watoncarita)



