Sokalima Mbalela

Ilustrasi: Pendita Durna - Prabu Drupada.

SEJAK anggaran pendidikan di negri Pancala benar-benar dipatuhi 20 % dari APBN sebagaimana amanat UU, orangtua murid kalangan wayang bernapas lega. Sebab biaya pendidikan di negeri itu menjadi murah. Masuk SD hingga Perguruan Tinggi, tak perlu utang bank, karena semua terjangkau kantong rakyat. Kalangan guru pun sangat berbahagia, karena setiap 3 bulan sekali dapat rapelan tunjangan sertifikasi.

Gara-gara itu Perguruan Sokalima Bersubsidi milik Pendita Durna kehabisan murid. Peserta didik lebih memilih ke sekolah negeri di Pancala, yang jauh menjadi lebih murah dan bermutu lagi. Pendita Durna sekarang tak bisa lagi memungut uang gedung dan sumbangan pendidikan yang lumayan besar. Itu artinya kantong jubah Pendita Durna menjadi kosong, kalah bersaing dengan kantong di jubah Dimas Kanjeng.

“Aswatama, kita harus banting stir. Lahan pendidikan sudah tak menjanjikan lagi. Buka agen gas melon juga sudah jenuh. Aku pengin menjadi raja saja sekalian. Jadi pendita kok nasibnya gini-gini saja.” Kata Durna pada putra kesayangannya, Aswatama.

“Bapak kan sudah tua, mana laku. Belum tentu juga Pancala merestui niat bapak. Memangnya bapak warga negara Pancala asli? Lagi pula gaji sebagai penasihat kerajaan Ngastina kan cukup besar.”

Pendita Durna hanya mencibir. Apanya yang besar? Bah, katanya gaji penasihat spiritual, faktanya hanya beberapa real. Apa lagi tunjangan jabatan dan fungsional sudah 11 tahun tak kunjung naik. Jika tak ingat status dan harga diri, mau rasanya Pendita Durna ikut mogok super damai di alun-alun Ngastina. Tapi apa kata orang, Pendita Durna yang terhormat kok ikut-ikutan mogok. Apakah mau ikut-ikutan mengaku atas nama pribadi saja seperti Wakil Ketua MPR di negara sebelah.

Baik dalam dunia wayang serius maupun wayang abal-abal, Durna selamanya tak mau mengalah dengan anak sendiri. Karena itulah, meski distrik Sokalima masih di bawah kendali kerajaan Pancala, dia mau memisahkan diri saja. Dia ingin menjadi raja, ambil nama misalnya: Prabu Durna Amijaya Sayidin Panatacara. Lho, gelar raja kok panatacara bukan panatagama? Oo, beda! Durna memang bukan ahli agama, tapi biasa jadi MC mantenan.

“Pikir dulu rama, itu namanya pembangkangan alias makar. Bapak bisa diciduk bareng Sri Bintang Pamungkas, dan saya kebawa-bawa,” kata Aswatama panik.

“Kok kamu malah menasehatiku? Itu kan hak prerogratip bapak. Jadi pemimpin pilihannya hanya dua, kalau nggak mukti (makmur), ya mati. Gitu saja kok repot.”

Durna pun memerintahkan putranya bikin surat elektronik, ditujukan kepada Prabu Drupada. Jika perlu juga diapload di Youtube. Isinya, ingin memisahkan diri dari negeri Pancala, membentuk negara Sokalima Merdeka dengan raja Prabu Durna Amijaya alias dirinya sendiri. “Keputusan ini tak bisa diganggu gugat dan diuji materi di MK,” bagitu kata Durna.

Sudah barang tentu Prabu Drupada terkaget-kaget membaca surat yang baru saja diserahkan oleh kurir JNE. Baca statemen Pendita Durna di Youtube juga bikin tambah panas saja. Bukan soal hilang dan lepasnya sekian ribu HA wilayah Pancala, tapi tidak tahu diri amat pendita asal Ngatasangin itu. Bukankah ketika masih menggelandang di Pancala 30 tahun lalu, Drupada lah yang menolong? Kala itu, jangankan duit, kartu penduduk saja Bambang Kumbayana (Durna muda) tidaklah punya. Kemudian, bisa tinggal di rusunawa siapa yang bantu?

“Sudahlah bos, culik dan tangkep saja pendita tak tahu diuntung itu,” saran Patih Dorakethu.

“Jangan, nanti justru malah mancing simpati publik. Jika sampai terjadi tekanan massa atas pemerintahan kita, bisa repot,” jawab Prabu Drupada penuh pertimbangan.       Prabu Drupada di kala muda, sewaktu bernama Sucitra, memang berteman baik dengan Bambang Kumbayana. Saat mengambil S2 di Ngatasangin dulu, dia juga kos di istana Prabu Baratmeja ayah Bambang Kumbayana. Mereka biasa jalan bareng, jajan bareng, termasuk nggodain cewek di perempatan jalan. Nah, karena pertemanan itu, Prabu  Drupada tak tega berbuat kasar. Malah jika memungkinkan, Prabu Drupada ingin mengajak makan-makan Pendita Durna di Istana, sambil mendikusikan problema yang dihadapi Sokalima.

Maka ketika menjawab surat Pendita Durna, bahasanya halus dan lunak sekali. Katanya dalam surat itu, “Kangmas Begawan pengin jadi raja, silakan saja. Tapi jajagi dulu pendapat rakyat lewat referandum, dan jika perlu sewa lembaga survei.”

“Kurang ajar nih Sucitra, masak saya diajari hal yang beginian. Durna kan bukan wayang kemarin sore.” Gerutu Durna demi membaca balasan Prabu Drupada.

Namun dalam hati kecilnya dia mengakui, menggunakan jasa lembaga survei memang perlu. Sebab sejak kasus “Demenan Kuda” bersama Dewi Wilutama dibocorkan “Wikileak” popularitas Durna menjadi anjlog. Lewat survei lembaga independen bisa ditakar seberapa besar elektabilitasnya sekarang. Tapi jaman sekarang apa masih ada lembaga survei yang bebas dari pesanan?

Negeri Ngastina juga mendengar rencana Durna sebagai pelopor gerakan separatis. Prabu Duryudana merasa keberatan, karena rencana itu bisa mempengaruhi hubungan diplomatik Ngastina-Pancala sendiri. Maka Patih Sengkuni ditugaskan untuk menasehati, agar jangan meneruskan niat itu. Hargailah Prabu Drupada, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, kan begitu kata Bung Karno.

“Maaf Di Cuni, sebaiknya Anda diam saja, toh bukan Timses saya,” kata Durna.

“Oo, ya sudah. Saya kan sekedar memberi input. Permisi…….” ujar Sengkuni sambil ngeloyor pergi.

Sesuai dengan sponsor dan restu, Distrik Sukalima pun berencana menggelar referandum atau Penentuan Pendapat Rakyat: pilih  negeri baru Sokalima Merdeka, apakah di bawah negeri Pancala. Untuk memenangkan Pepera tersebut, Begawan Durna lalu membagi-bagi tas bergambar Durna dan diisi sembako senilai Rp 50.000,- Bukan itu saja, Durna juga menawarkan, jika referandum ini sukses, nantinya setiap RW akan diberi dana stimulan Rp 1 miliar.

“Pilih aku ya, nanti semuanya saya gratiskan?” kata Durna saat bagi-bagi tas.

“Orang jompo naik busway juga gratis, Mbah?” kata rakyat setengah meledek.

Begitulah, Durna terus kampanye untuk referandum. Dengan alasan memihak rakyat, saat Prabu Drupada hendak menaikkan harga BBM, Durna malah menyemangati rakyat untuk menolak. Bahkan Durna pun ikut demo. Lagi-lagi dia beralasan atas nama pribadi.

Kesabaran Prabu Drupada lama-lama habis. Maka saat Durna minum kopi di pagi hari, langsung dicomot prajurit Pancala. Dia dituduh makar, ingin menggulingkan pemerintahan yang sah. Ada 100 pertanyaan yang harus dijawab.

“Paman Durna, batalkan atau tidak referandum itu. Bisa coplok nih hidungmu.” Hardik seorang pemeriksa yang ternyata Prabu Baladewa, bon-bonan dari Mandura.

“Lho, kok sampeyan ada di sini? Biar wayang abal-abal, ceritanya ngga masuk juga. Masak Baladewa kok jadi partisan Pancala?”

“Memangnya raja tak boleh ngobyek” sergah Baladewa sambil gebrak meja.

Pendita Durna manggut-manggut. Di era gombalisasi ini rupanya serba mungkin. Demi cari tambahan bupati wayang pada mengkomersilkan perijinan lahan, yang brigjen tentara saja korupsi anggaran alutsista hingga ratusan miliar. Bahkan pejabat cewek banyak juga yang jadi “Mustakaweni maling”.

Akhirnya, pukul 24.00 Durna baru dilepas dan dipulangkan. Demi keutuhan dunia perwayangan antara Ngastina – Pancala, terpaksa membatalkan referandum. Dia harus nrimo dan puas Sokalima menjadi enclave dalam wilayah kekuasaan Pancala. Sekarang ada tawaran dari Prabu Drupada, untuk menjadi Dubes di Burundi, Afrika. Ini masih dipikir-pikir diterima atau tidak. Sebab jadi Dubes negara kecil sama saja Pendita Durna masuk kotak. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

Advertisement